Arsip Berita -> Berita

Berita

Tanggal : 2018-05-28 | Waktu : 14:51:29
Ramadhan dan Momentum Kebangkitan Ekonomi Umat

Dekan FEBI UINSU Medan Dr. Andri Soemitra, MA pada Abdimas UINSU Medan di Radio Programa I LPP RRI Medan Jumat, 25 Mei 2018 Pkl. 17.30-18.00 WIB. Dr. Andri Soemitra menyampaikan bahwa sudah menjadi pengetahuan umum bahwa ekonomi baik dunia maupun Indonesia tidak dikuasai oleh umat Islam, oleh karena itu perlu ada upaya untuk membangkitkan ekonomi umat, diantaranya :
1. Pemberdayaan umat miskin dengan pemberian bantuan pemenuhan kebutuhan dasar. Islam selama Ramadhan mempromosikan sedekah dan berzakat. Fakir miskin dibantu kebutuhan dasarnya lewat sedekah dan zakat agar terjaga jiwa dan agamanya karena sungguh kefakiran itu dekat dgn kekafiran. Umat Islam yg berpunya dan mampu mesti menunjukkan solidaritas Ukhuwah Islamiyah kepada saudaranya yg kurang beruntung.
2. Pemberdayaan kapasitas usaha dan akses permodalan. Umat Islam mestinya mencontoh Rasulullah yg sejak muda sudah berprofesi sebagai pebisnis. Kaum Muslimin yg lemah ekonomi nya perlu dibantu dgn diberikan kemampuan berusaha dan akses modal. Di sinilah perlu ada peran Lembaga Pendidikan, Masjid, Ormas/LSM, dan Lembaga Keuangan Syariah (LKS). LKS ini dapat dimanfaatkan sesuai dgn segmentasi pasar masing-masing. Bagi masyarakat bawah bisa dibantu oleh Lembaga Keuangan Mikro Syariah yaitu koperasi syariah dan Baitul Mal Wat Tanwil yg lebih mementingkan hubungan kepercayaan dgn nasabah anggota nya ketimbang agunan harta benda yg sulit disediakan bagi masyarakat yg sudah sulit ini. Ada pula Pegadaian Syariah bagi masyarakat yg punya aset yg bisa digadaikan. Ada pula Perbankan Syariah yg bisa diakses oleh masyarakat dengan beragam jenis pembiayaan komersial & sosial bebas riba dan haram. Demikian pula pasar modal syariah bisa menjadi media berinvestasi bagi masyarakat muslim yg punya kelebihan dana ketimbang hanya ditabung dan kalah dgn laju inflasi. Ada pula perusahaan pembiayaan syariah. Lembaga Keuangan Syariah ini dapat dimanfaatkan sesuai segmentasi dan keadaan masyarakat.
3. Mengupayakan dana dana murah Non Komersial yg bisa menjadi modal bergulir (Dana Abadi) bagi calon pengusaha muslim yg lemah modalnya lewat pendirian Bank Wakaf atau Penghimpunan Wakaf Uang Tunai agar tidak ada beban margin yg memberatkan karena hanya akan mengembalikan pokok modal dan biaya riil yg timbul.
4. Memperbanyak Kelompok Usaha Bersama agar ada lingkungan yg mendukung masyarakat Lemah untuk punya tanggung jawab terhadap modal dan usaha yg dijalani secara tanggung renteng sehingga usaha yg dijalani bisa dikembangkan dan diduplikasi oleh anggota kelompok yg lain. Kelompok usaha bisa dibina oleh Lembaga Pendidikan, Masjid, Ormas/LSM, Korporat, dan LKS.
Saat ini tren industri halal sedang booming secara global. Beragam bidang antara lain Kuliner (makanan minuman), fashion (pakaian), obat dan kosmetik, wisata dan travel, Keuangan dan bisnis/ wirausaha, dst seolah berlomba menawarkan produk halal. Jangan sampai umat Islam hanya sekedar menjadi Konsumen dan target pasar semata. Tapi Umat Islam harus bergerak maju menjadi Produsen/Pengusahanya dan menguasai sektor industri halal yg merupakan wujud dari praktik ekonomi syariah di berbagai bidang.
Fa'tabiru Ya Ulil Albab.