Memupuk Nikmat Persatuan Berbangsa
Oleh Prof. Dr. H. Muhammad Syukri Albani Nasution, M.A. – Dekan FEBI UIN Sumatera Utara
Di antara sekian banyak nikmat yang Allah subhanahu wa ta’ala anugerahkan kepada manusia, terdapat beberapa nikmat yang sangat agung dan sering kali luput dari kesadaran kita. Salah satu nikmat terbesar tersebut adalah nikmat hidayah Islam. Melalui hidayah inilah hati manusia diteguhkan untuk mengikuti ajaran Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, meniti jalan yang benar, serta hidup dalam naungan nilai-nilai keimanan.
Selain itu, Allah subhanahu wa ta’ala juga menganugerahkan nikmat berupa persatuan dan kebersamaan di antara sesama umat manusia, khususnya umat Islam. Dengan persatuan itulah kita dapat hidup berdampingan, saling menjaga, dan saling menguatkan dalam menghadapi berbagai dinamika kehidupan. Dalam kehidupan berbangsa dan bermasyarakat, persatuan menjadi fondasi penting bagi terciptanya ketenteraman, rasa aman, serta keharmonisan sosial.
Kita patut bersyukur karena hingga hari ini Allah subhanahu wa ta’ala masih menganugerahkan kepada kita kehidupan yang relatif damai dalam bingkai kebangsaan. Kita dapat berinteraksi dengan baik di tengah masyarakat, bekerja di lingkungan yang kondusif, serta membangun keluarga dalam suasana yang tenteram. Bahkan bagi mereka yang tengah menghadapi berbagai persoalan hidup, masih diberikan kesempatan untuk berkumpul bersama saudara-saudara seiman, menunaikan ibadah, dan memperkuat ukhuwah di masjid yang mulia ini.
Allah subhanahu wa ta’ala berfirman dalam QS. Ali ‘Imran ayat 103:
وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا ۚ وَاذْكُرُوا نِعْمَتَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنتُمْ أَعْدَاءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُم بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا ۚ وَكُنتُمْ عَلَىٰ شَفَا حُفْرَةٍ مِّنَ النَّارِ فَأَنقَذَكُم مِّنْهَا ۗ كَذَٰلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمْ آيَاتِهِ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ
“Berpegang teguhlah kamu semuanya pada tali (agama) Allah dan janganlah kamu bercerai-berai. Ingatlah nikmat Allah kepadamu ketika dahulu kamu bermusuhan, lalu Allah mempersatukan hatimu sehingga dengan karunia-Nya kamu menjadi bersaudara. Dan ketika itu kamu berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu darinya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu agar kamu mendapat petunjuk.”
(QS. Ali ‘Imran: 103)
Ayat ini mengingatkan kita bahwa persatuan adalah nikmat yang sangat besar. Ia bukan sekadar kondisi sosial, melainkan karunia langsung dari Allah subhanahu wa ta’ala yang menyatukan hati-hati manusia. Karena itu, menjaga persatuan bukan hanya tanggung jawab sosial, tetapi juga bentuk rasa syukur atas nikmat yang telah Allah subhanahu wa ta’ala berikan.
Ayat ini menegaskan betapa pentingnya menjaga persatuan. Allah subhanahu wa ta’ala secara tegas memerintahkan umat Islam agar berpegang teguh pada tali agama-Nya dan tidak terpecah belah. Persatuan bukan sekadar pilihan, melainkan perintah langsung dari Allah subhanahu wa ta’ala yang harus dijaga dan dirawat sepanjang waktu.
Jika ayat tersebut kita kontekstualisasikan dengan kehidupan masyarakat saat ini, pesan yang terkandung di dalamnya menjadi sangat relevan. Umat Islam diperintahkan untuk tetap menjaga kebersamaan dan tidak mudah terpecah oleh perbedaan pandangan maupun kepentingan. Persatuan harus dipelihara dengan penuh kesadaran bahwa ukhuwah adalah kekuatan besar yang dimiliki oleh umat.
Di tengah berbagai ujian kehidupan modern—mulai dari persoalan kemiskinan, kesenjangan sosial, hingga tantangan di bidang pendidikan dan keadilan—persatuan menjadi semakin penting. Tidak jarang pula muncul upaya dari segelintir pihak yang mencoba memecah belah umat melalui berbagai cara, seperti provokasi, adu domba, maupun penyebaran kebencian.
Dalam menghadapi situasi seperti ini, umat Islam dituntut untuk memiliki kedewasaan sikap. Kita tidak perlu mudah terpancing oleh berbagai provokasi yang dapat merusak ukhuwah. Prinsip yang harus kita pegang adalah berlapang dada terhadap perbedaan serta bersatu dalam hal-hal yang telah menjadi kesepakatan bersama.
Sebagai bentuk ikhtiar dalam menjaga ukhuwah dan memperkuat persatuan, Buya Yunahar Ilyas dalam bukunya Kuliah Akhlak menjelaskan empat pilar penting yang dapat menjadi fondasi dalam membangun persaudaraan.
Pilar pertama adalah ta’aruf, yaitu upaya untuk saling mengenal satu sama lain. Ta’aruf tidak hanya sebatas mengenal nama atau identitas lahiriah seseorang, tetapi juga memahami latar belakang kehidupannya, pengalaman pendidikan, serta kondisi sosial dan keagamaannya. Dengan saling mengenal secara lebih mendalam, kita akan lebih mudah membangun rasa saling menghargai dan menghormati.
Pilar kedua adalah tafahum, yakni saling memahami. Dalam kehidupan bermasyarakat, setiap individu memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Dengan adanya sikap saling memahami, berbagai kesalahpahaman dapat diminimalisasi sehingga konflik yang tidak perlu dapat dihindari.
Pilar ketiga adalah ta’awun, yaitu semangat saling tolong-menolong. Islam sangat menekankan pentingnya solidaritas sosial. Yang kuat hendaknya membantu yang lemah, yang memiliki kelebihan membantu yang kekurangan, yang sehat membantu yang sakit, dan yang mampu membantu yang membutuhkan. Dengan semangat tolong-menolong ini, rahmat Allah subhanahu wa ta’ala akan senantiasa turun kepada masyarakat.
Adapun pilar keempat adalah takaful, yakni saling memberikan jaminan dan perlindungan. Takaful menciptakan rasa aman di tengah masyarakat, karena setiap individu merasa bahwa dirinya tidak sendirian dalam menghadapi persoalan hidup. Ada saudara yang siap membantu, memberikan dukungan, serta mencarikan jalan keluar atas berbagai kesulitan yang dihadapi.
Keempat pilar tersebut menjadi fondasi penting dalam membangun ukhuwah yang kokoh. Dengan ta’aruf, tafahum, ta’awun, dan takaful, persaudaraan tidak hanya menjadi slogan, tetapi benar-benar hadir dalam kehidupan nyata masyarakat. Persatuan umat Islam pun dapat terjaga dengan baik, sekaligus menjadi kekuatan besar dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Pada akhirnya, kita semua harus menyadari bahwa sebagai manusia biasa, kita tidak luput dari kesalahan dan kekhilafan. Tidak ada manusia yang sempurna, karena kesempurnaan hanya dimiliki oleh para Nabi yang dijaga dari dosa. Kesadaran inilah yang seharusnya mendorong kita untuk terus memperkuat persaudaraan dan memperbaiki diri.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga memberikan tuntunan yang sangat jelas tentang pentingnya saling membantu dan meringankan beban sesama. Hal tersebut sebagaimana disebutkan dalam hadis yang diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu:
“Barangsiapa melapangkan satu kesusahan dunia dari seorang Mukmin, maka Allah akan melapangkan darinya satu kesusahan pada hari Kiamat. Barangsiapa memudahkan urusan orang yang kesulitan, maka Allah ‘azza wa jalla memudahkan baginya kesulitan di dunia dan akhirat. Barangsiapa menutupi aib seorang Muslim, maka Allah akan menutup aibnya di dunia dan akhirat. Allah senantiasa menolong seorang hamba selama hamba tersebut menolong saudaranya. Barangsiapa menempuh jalan untuk menuntut ilmu, maka Allah akan memudahkan baginya jalan menuju Surga. Tidaklah suatu kaum berkumpul di salah satu rumah Allah (masjid) untuk membaca Kitabullah dan mempelajarinya, melainkan ketenteraman akan turun kepada mereka, rahmat meliputi mereka, malaikat mengelilingi mereka, dan Allah menyebut mereka di hadapan makhluk yang ada di sisi-Nya.”
Melalui pesan Al-Qur’an dan hadis tersebut, menjadi jelas bahwa menjaga persatuan bukan hanya urusan sosial semata, melainkan juga bagian dari ibadah kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Persatuan yang dilandasi iman, keikhlasan, dan semangat saling membantu akan menjadi sumber kekuatan umat dalam menghadapi berbagai tantangan zaman.
Karena itu, marilah kita terus memupuk nikmat persatuan ini dengan penuh kesadaran dan tanggung jawab. Dengan menjaga ukhuwah, memperkuat solidaritas, serta mengedepankan sikap saling menghormati, kita berharap dapat menjadi umat yang kuat, damai, dan mendapatkan keberkahan dari Allah subhanahu wa ta’ala.


