Arsip Agenda -> Agenda

Agenda

Tanggal : 2016-07-17 | Waktu : 06:51:26
Kata Sambutan Penutup Forum Diskusi Dosen Minggu Keempat Edisi Ramadhan 1437 H Oleh Dekan FEBI UIN SU (Dr. H. Azhari Akmal Tarigan, M.Ag)

Medan , 30 Juni 2016. Forum Diskusi Dosen UIN SU  Menyelenggarakan Diskusi Minggu Keempat Ramadhan 1437 H. Kata sambutan penutup Diskusi Edisi Ramadhan oleh Dekan FEBI UIN SU  Dr. H. Azhari Akmal Tarigan, M.Ag, menyampaikan bahwa Diskusi ini dari Awal sampai akhir terus menambah dari segi jumlah yang yang hadir, materi materi yang disampaikan menjadi inspirasi bagi kita semua, dan mengucapkan terima kasih sebesar besarnya kepada Pengelola dan panitia / pengurus Forum Diskusi Dosen (FDD) , serta para peserta yang selama ini intens mengikuti kegiatan FDD tersebut.  Ada 2 Narasumber yang mengisi dalam diskusi, 1. Prof. Dr. H.M.Yasir Nasution, MA  ( Guru Besar FEBI UIN SU ) , 2. Dr. H. Muhammad Yafiz, MA (Wakil Dekan I ) .

                 Hadir juga  dalam diskusi tersebut Ketua (FDD)  M.Latief Ilhamy Nst,MA, Sekjen FDD Sunarji Harahap, M.M.serta Para anggota. Para Peserta yang hadir  para Ketua Prodi dan Dosen Dosen FEBI dan Dosen Luar FEBI, karena kegiatan ini bersifat umum. Dapat dilihat antusias para peserta dalam diskusi sangat baik, dengan adanya banyaknya pertanyaan yang disampaikan peserta dan ditutup dengan pemberian Doorprize Buku Buku , dan sejumlah Bingkisan lainnya yang diberikan kepada para peserta yang beruntung.

               Narasumber 1 (Prof. Dr. H.M.Yasir Nasution, MA ) menyampaikan bahwa Manusia adalah hamba Allah SWT. Yang mempunyai dua sistem kehidupan. Yaitu kehidupan rohani dan jasmani. Kedua-duanya bersifat simbosis atau organik. Satu sama lain saling manyatu dan membutuhkan. Jika sistem rohani sakit maka jasmani maupun akan mengalami sakit. Demikian juga sebaliknya, jika jasmani sakit, maka rohanipun ikut sakit.

            Oleh karena itu, Islam sangat memperhatikan keseimbangan antara kedua sistem tersebut. Untuk itu, maka akidah dan ibadah dalam Islampun bukan saja bersifat keimanan dan ritual yang hanya melahirkan kesalihan individu, melainkan juga bersifat sosial, yang dapat melahirkan keshalihan sosial (struktural).

              Perhatian Islam terhadap masalah kesejahteraan sosial dapat dicermati pula dari dua alasan. Pertama, ayat-ayat al-Qur’an yang berkaitan dengan masalah sosial jauh labih banyak dibandingkan ayat yang berkenaan dengan masalah keimanan dan ibadah pribadi, yaitu 100:1.  Jika ada seratus ayat sosial, maka hanya ada satu ayat keimanan dan ibadah. Kedua, ibadah khusus seperti puasa, dapat diganti dengan amal sosial, tetapi sebaliknya, ibadah sosial tidak dapat digamti dengan ibadah khusus.

         Berkaitan dengan upaya mewujudkan kesejahteraan sosial dalam kehidupan kemasyarakatan, Islam bukan saja memiliki perangkat etik, tetapi juga dilengkapi dengan sejumlah instrumen. Adapun instrumen itu antara lain ialah zakat, infak, dan shadaqah. Khusus mengenai zakat, intrumen ini mendapat tempat khusus dalam al-Qur’an. Ia disebut secara sendirian sebanyak 10 kali, dan disebut bersama-sama shalat sebanyak 82 kali, sehingga secara keseluruhan zakat disebut sebanyak 112 kali. Ini menandakan bahwa Islam sangat memperhatikan kesejahteraan sosial dalam kehidupan kemasyarakatan.

                  Sasaran kesejahteraan sosial dalam Islam adalah sesuai dengan sistem kemanusiaan Yaitu kehidupan rohani dan jasmani. Indikator kesejahteraan sosial dalam Islam tidak saja tercermin dalam kesejahteraan lahiriah, melainkan juga tercermin dalam kehidupan rohani. Sebab persoalan keterbalakangan, kebodohan dan kemiskinan bukan hanya dikarenakan ada faktor-faktor rohani seperti mental, motivasi dan pemahaman terhadap suatu sistem nilai yang dianut.

            Dalam soal kesejahteraan rohani, sasaran yang harus dilakukan perbaikan adalah bagaimana menjadikan sistem nilai yang dianutnya (tauhid) sebagai ruh, spirit dan etos melakukan aktifitas kehidupan. Dengan kata lain, bagaimana mengfungsikan sistem aqidah (keimanan) seseorang agar mampu berbuat lebih baik didunia ini.

            Sedangkan dalam kesejahteraan sosial, Islam menekankan pada upaya memberantas kemiskinan, kebodohan, dan keterbelakangan. Selain itu, juga mengutamakan penyantunan terhadap fakir miskin, anak yatim dan orang tua. Penekanan terhadap obyek-obyek tersebut dikarenakan, memang dalam kenyataannya masalah tersebutlah yang harus dibenahi. Sebab masalah kemiskinan, keterbelakangan, kebodohan, persoalan anak yatim, fakir miskin, dan orang tua adalah persoalan abadi, yang ada di setiap tempat dan kurun waktu.

                   Idealisasi “kesejahteraan hidup” dalam Islam khususnya, dan agama samawi pada umumnya, adalah “kehidupan surgawi” yaitu kehidupan di surga nanti, yang selalu digambarkan sebagai :

  1. Serba kecukupan pangan yang berkalori dan bergizi
  2. Kecukupan sandang yang bagus-bagus
  3. Tempat tinggal yang indah dan nyaman 
  4. Lingkungan hidup yang sehat dan segar
  5. Hubungan sosial yang tentram dan damai
  6. Dikeilingi pelayan-pelayan yang trampil dan menggairahkan
  7. Hubungan yang selalu dekat dengan Allah, Tuhan Maha Pemurah

Kunci keberhasilan unruk mencapai kehidupan sejahtera yang ideal itu, ditegaska bahwasannya harus melalui yang panjang, yakni :

            Pertama :Keimanan yang mantap kepada Allah, kepada Rasul-Nya, dan rukun iman lainnya, Kedua   :Ketekunan melakukan amal-amal saleh, baik amalan yang bersifat ritual, seperti shalat, zakat, puasa dan lain-lain; dan amalan yang bersifat sosial, seprti pendidikan, ksehatan, dan masalah-masalahkesejahteraan lainnya, maupun amalan yang bersifat kultural, yang lebih luas lagi seperti pendayagunaan dan pelestarian sumber daya alam, penanggulangan bencana, penelitian dan sebagainya. Ketiga :Kemampuan menangkal diri dri kemaksiatan dan perbuatan yang merusak kehidupan (almuhlikat).

            Gambaran kesejahteran “kehidupan surgawi” itu tadi yang diidentifikasikan sebagai kebahagiaan akhirat (fil akhirati hasanah). Tapi disamping kesejahteraan kehidupan surgawi tersebut, Islam juga memberikn perntah agar terwujudnya kesejahteraan kehidupan duniawi (fiddunya hasah), dengan kuci keberhasilan yang tidak berbeda dengan kunci keberhasilan untuk kesejahteraan kehidupan surgawi.

            Jika orang memperhatikan ajaran-ajaran Islam dengan cermat, akan mendapatknnya selalu mengacu kepada perwujudan kemaslahatan manusia dan pencpaian-pencapaian kebutuhan dasarnya maupun kesejahteraannya, baik kesejahteraan duniawi maupun ukhrawi.

         

Narasumber 2 (Dr. H. Muhammad Yafiz, MA) menyampaikan Ideologi Kesejahteraan Sosial  dalam prespektif Islam Nusantara. Indonesia dengan Ideologi Pancasila sebenarnya sudah mengintegrasi kan nilai nilai kesejahteraan social keislaman didalamnya. Hal ini beranjak pada Permasalahan yang dihadapi negara-negara yang sedang berkembang adalah kesejahteraan warga negaranya. Kesejahteraan telah menjadi bagian penting dari sebuah negara. Bahkan, didirikannya atau dibentuknya sebuah negara adalah dalam rangka mewujudkan kesejahteraan masyarakatnya. Berbagai cara, metode, aturan, alat,pendekatan, ataupun kebijakan telah dipilih dan dilakukan oleh sebuah negara dalam rangka untuk mencapai tujuan tersebut. Berbagai nilai dan institusi sosial tersebut dapat menjadi instrumen bagi terciptanya kehidupan yang lebih teratur dan lebih baik. Demikian juga dengan dorongan untuk membentuk negara. Negara dibutuhkan dan dibentuk untuk mewujudkan ketertiban dan kehidupan yang lebih baik yang juga biasa disebut kesejahteraan. Dengan demikian, kesejahteraan menjadi idaman setiap orang dan setiap masyarakat, bahkan setiap negara.Kondisi kehidupan bermasyarakat dan bernegara yang sejahtera menjadi sesuatu yang diidealkan.

          Indonesia adalah termasuk diantara negara yang menjadikan kesejahteraan bangsanya sebagai tujuannya.Rumusan kesejahteraan dituangkan dalam pembukaan Undang-Undang Dasar 1945. Selain itu, komitmen tersebut juga terjabarkan dalam batang tubuhnya, yakni Bab XIV pasal 33 tentang perekonomian nasional dan kesejahteraan sosial. Oleh karenanya, ciri dari tercapainya tujuan tersebut. Menurut Bung Karno dalam buku Lahirnya Pancasila adalah tidak adanya kemiskinan.Untuk memastikannya, para pendiri bangsa ini menegaskannya dalam Pasal 34 tentang fakir miskin dan anak-anak terlantar yang dipelihara oleh negara. Namun demikian, hingga saat ini kesejahteraan yang dicita-citakan belumlah tercapai bahkan masih jauh dari harapan yang diinginkan oleh masyarakatnya maupun oleh pendiri bangsa ini. Kondisi inilah yang kemudian melahirkan konsep ketimpangan atau kesenjangan. Kesenjangan terjadi apabila 20 persen penduduk yang tergolong kaya meraih lebih dari 50 persen GNP. Di Indonesia, kesenjangan spasial terjadi antara desa dan kota, antara Indonesia bagian barat dan Indonesia bagian timur. Akhirnya muncul kesadaran bahwa penerapan strategi growth first distribution later tidak sesuai untuk negara-negara berkembang. Kesejahteraan telah dipersepsikan sebagai sebuah pertumbuhan yang tinggi dalam pembangunan ekonomi. Pendekatan ini telah banyak membuat negara berhasil mencapainya. Indikator keberhasilan tersebut adalah meningkatnya akumulasi kapital dan pendapatan per kapita.  

                Oleh karenanya, ciri dari tercapainya tujuan tersebut menurut Bung Karno dalam buku Lahirnya Pancasila adalah tidak adanya kemiskinan.  Untuk memastikannya, para pendiri bangsa ini menegaskannya dalam Pasal 34 tentang fakir miskin dan anak-anak terlantar yang dipelihara oleh negara.Namun demikian, hingga saat ini kesejahteraan yang dicita-citakan belumlah tercapai bahkan masih jauh dari harapan yang diinginkan oleh masyarakatnya maupun oleh pendiri bangsa ini.Namun demikian, keberhasilan ini hanya dinikmati oleh pemilik modal dan kelompok elit nasional. Seiring dengan semangat umat Islam untuk berusaha menerapkan ajaran agamanya, muncullah kajian tentangkesejahteraan dalam perekonomian yang berbasiskan syariah Islam.

             Paradigma ini menjelaskan bahwa kesejahteraan masyarakat akan dapat tercapai bila seluruh aktivitas manusia berlandaskan syariah atau hukum-hukum Islam. Meskipun belum semua meyakini akan keampuhannya dalam menyelesaikan masalah-masalah perekonomian, sosial,politik, hukum, budaya, dan berbagai masalah alam, namun paradigma ini memberikan pemahaman yang sempurna tentang alam semesta, yakni : langit, bumi, dan segala isinya termasuk manusia sebagai khalifah didalamnya.

              Dalam kehidupan memang akan terjadi perbedaan dan kesenjangan ekonomi atau rezeki diantara pelaku ekonomi, karena hal tersebut merupakan sunnatullah. Kondisi inilah yang secara religius akan menciptakan mekanisme ekonomi, yang berkelebihan menolong yang kekurangan sehingga kesenjangan akan semakin menyempit walaupun tidak bisa dihilangkan sama sekali. Dengan demikian hanya dengan tolong menolong dan saling memberilah, maka kebutuhan manusia itu dapat terpenuhi, karena yang kaya membutuhkan yang miskin dan sebaliknya yang miskin membutuhkan yang kaya.

             Dalam perspektif ide atau gagasan, ternyata konsep kesejahteraan banyak mengadopsi pada paham kapitalisme dan sosialisme.Paham ini telah terbukti membawa banyakkegagalan dalam mengantarkan pembangunan untuk mencapai kesejahteraan masyarakatnya. Oleh karena itu,muncullah sebuah alternatif konsep kesejahteraan yang mengacu pada nilai-nilai ajaran syariah Islam. Pada saat krisis ekonomi moneter melanda dunia, lembaga-lembaga ekonomi di negara-negara berkembang yang menerapkan mekanisme syariah terbukti dapat bertahan dan bahkan disebagiannya mampu untuk dapat tumbuh dan berkembang. Sehingga berawal dari keberhasilannya ini mulailah banyak dikaji tentang konsep kesejahteraan yang berlandaskan pada ekonomi syariah Islam. Dalam teori-teori ekonomi, nilai-nilai yang ditawarkan ekonomi Islam tergolong hal yang baru. Meskipun pada kenyataannya ajaran Islam memberikan petunjukpetunjuknya dalam beraktivitas ekonomi tetapi secara bangunan ilmu masih membutuhkan proses untuk menjadi mapan. Muncul dan berkembangnya ilmu ekonomi Islam ini turut memberikan alternatif pemecahan masalah yang berlarut-larut akibat dari mengusung ide atau gagasankapitalisme maupun sosialisme yang mengalami kegagalan. Di sisi lain, ajaran syariah Islam memang menuntut para pemeluknya untuk berlaku secara profesional yang dalam prosesnya menampilkan kerapian, kebenaran, ketertiban, dan keteraturan. Tuntutan inilah yang mendorong untuk menunjukkan tentang bagaimana ekonomi Islam memberikan alternatif dalam kejelasan konsep kesejahteraan tersebut dan ini sudah tertuang didalam ideologi Pancasila yang  dianut negara Indonesia