Arsip Agenda -> Agenda

Agenda

Tanggal : 2016-03-11 | Waktu : 16:09:34
STUDIUM GENERALE FEBI UIN SU BERSAMA BAPAK ABDUL RAHMAN AL BANJARI

Medan, 29 Februari 2016 – Studium Generale dengan tema prospek dan peluang Asuransi Syariah di Indonesia, menjadi topik yang sangat menarik. Perkembangan asuransi syariah ibarat gadis manis, yang diburu banyak orang untuk menenangkan hatinya. Kini,, nyaris semua perusahaan asuransi membentuk unit syariah. Bahkan asuransi asing juga ikut membuka unit syariah. Mereka tentu ingin mencicipi kue syariah di Indonesia.  Hal ini disampaikan oleh Bapak Abdul Rahman Al Banjari selaku Kepala Cabang Medan  PT. Bumida 1967 pada acara Studium Generale FEBI UIN SU, dalam memulai sem genap TA. 2015/2016.

Sektor ekonomi syariah lainnya yang juga mulai berkembang adalah asuransi syariah. Prinsip asuransi syariah pada intinya adalah kejelasan dana, tidak mengandung judi dan riba atau bunga. Sama halnya dengan perbankan syariah, melihat potensi umat Islam yang ada di Indonesia, prospek asuransi syariah sangat menjanjikan. Dalam sepuluh tahun ke depan  dapat diperkirakan Indonesia bisa menjadi negara yang pasar asuransinya paling besar di dunia. Diperkirakan tahun mendatang asuransi syariah bisa mencapai 10 persen  market share asuransi konvensional. Abdul Rahman menambahkan bahwa di Indonesia saat ini tingkat pertumbuhan ekonomi syariah selama 5 tahun terakhir mencapai 40 %, Sementara asuransi konvensional hanya 22,7 %.

 

Perbankan dan asuransi, hanya salah satu dari industri keuangan syariah yang kini sedang berkembang pesat. Pada akhirnya, sistem ekonomi syariah akan membawa dampak lahirnya pelaku-pelaku bisnis yang bukan hanya berjiwa wirausaha tapi juga berperilaku Islami, bersikap jujur, menetapkan upah yang adil dan menjaga keharmonisan hubungan antara atasan dan bawahan.

Berdasarkan konsep Risk Based Capital (RBC) perusahaan asuransi di Indonesia sebenarnya dapat beroperasi dengan modal yang sangat rendah (diatas Rp 3 milyar) asal sehat dan memenuhi Risk Based Capital diatas 120%. Asuransi syariah dalam bentuk cabang atau divisi dari perusahaan asuransi konvensional dapat beroperasi dengan penyisihan modal minimal Rp 2 milyar.

Kemudahan-kemudahan permodalan ini disatu sisi baik untuk mendorong timbulnya perusahaan asuransi/cabang/divisi syariah. Di sisi lain sebenarnya harus disadari bahwa ketentuan minimum tersebut kurang mendorong timbulnya perusahaan asuransi yang sehat. Struktur permodalan yang kuat sangat dibutuhkan untuk mengangkat industri asuransi syariah. Dengan modal yang kuat perusahaan asuransi syariah akan dapat melaksanakan fungsi-fungsi yang semestinya, antara lain edukasi pasar melalui berbagai media komunikasi untuk menjelaskan keberadaan asuransi syariah, keunggulannya, manfaatnya serta kebersihan dari keraguan, pengembangan produk secara berkelanjutan, back-up keuangan yang kokoh untuk membangkitkan kepercayaan publik

Acara ini ditutup dengan pemberian piagam penghargaan kepada Bapak Abdul Rahman Al Banjari Oleh Bapak Dr. M. Ridwan, MA (Wakil Dekan III ) bersama Ibu Dr. Chuzaimah Batubara, MA (Wakil Dekan II )