Arsip Agenda -> Agenda

Agenda

Tanggal : 2016-03-14 | Waktu : 18:47:12
Artikel Keenam ,Harian Waspada 08 Maret 2016,PEMBANGUNAN PELABUHAN BISNIS HALAL Oleh SUNARJI HARAHAP, M.M.

Pelabuhan Halal Indonesia saat ini menjadi topik terhangat secara Nasional ,Pengembangan Ekonomi Bisnis Syariah semakin terpopuler seiring perkembangan zaman saat ini yang semakin global. Halal sudah menjadi bagian kehidupan tidak hanya di Indonesia tapi juga di dunia international. MUI mengapresiasi dengan adanya kerja sama pengembangan pelabuhan halal.

Dilihat dari potensi pasar, pelabuhan halal cukup menjanjikan. Total pengeluaran global untuk konsumsi Muslim dari sektor makanan dan gaya hidup mencapai 1,62 triliun dollar AS pada tahun 2012 dan diprediksi meningkat mencapai 2,47 triliun dollar AS pada tahun 2018, sebagaimana dinyatakan Thomas Reuters dalam State of The Global Islamic Economy 2013. 

Menurut Thomas Reuter dalam State of the Global Islamic Economy 2013, Indonesia menempati peringkat pertama pengguna makanan halal dengan total pengeluaran 197 miliar dolar AS atau sekitar 18 persen dari total pengeluaran global untuk sektor makanan halal dan Indonesia lebih punya potensi karena Indonesia negara dengan jumlah muslim terbesar di dunia. Namun selama ini peluang tersebut belum dimanfaatkan Indonesia

saat ini Pemerintah, BUMN dan media massa Indonesia makin  perhatian kepada urusan halal. Menurutnya, omset produk halal dunia sudah mencapai hampir 2 trilyun dollar. Sementara Indonesia masih lebih besar menjadi konsumen daripada produsen

PT Pelabuhan Indonesia II (Persero) melalui anak perusahaan IPC Logistic Services akan menggarap pelabuhan halal pertama di Indonesia. Selama ini, pasar pelabuhan halal masih dikuasai Malaysia dan Singapura. Diharapkan, dengan menyediakan pelabuhan halal, biaya logistik akan lebih murah dan bisa meningkatkan kinerja layanan di pelabuhan karena semakin banyak peti kemas yang masuk ke Indonesia

selama ini semua barang atau produk yang berasal dari negara non-Muslim, dan akan dikirim ke Timur Tengah atau ke Indonesia, selalu melewati pelabuhan halal Malaysia atau Singapura 
. Selain itu, dari sisi arus dan volume barang di pelabuhan menjadi lebih pasti dan terjamin karena ada kepastian standarisasi halal.

Di pelabuhan itu, semua produk dan peti kemas dikelola dengan cara yang halal. Jika tidak halal, negara-negara yang menuntut adanya sertifikat halal tidak mau menerima produk tersebut

Dengan dibukanya pelabuhan halal, produk halal yang masuk ke Indonesia akan lebih murah. Dengan diberi sertifikat halal di Malaysia atau Singapura, terjadi dua kali proses di pelabuhan berbeda Namun, jika sertifikasi halal dilakukan di Indonesia lalu barangnya masuk ke Indonesia, tentu mengurangi ongkos logistik

pelabuhan halal ini tidak hanya melakukan sertifikasi di pelabuhan, tetapi juga di negara produsen. Misalnya barang-barang dari Tiongkok, tentu butuh untuk disertifikasi  halal

 

Memiliki cita-cita menjadikan Indonesia menjadi Pusat Halal Dunia, Lembaga Pengkajian Pangan Obat-Obatan dan Kosmetika (LPPOM MUI) memulai dengan menandatangani Memorandum of Understanding (MoU) bersama PT. Multi Terminal Indonesia(MTI) untuk kerjasama pembangunan dan pengembangan Halal Hub Port berlokasi di Tanjung Priok, port mempunyai luas 6 hektar. MOU ini dilakukan sebagai salah satu upaya mewujudkan Indonesia sebagai Pusat Halal Dunia, adanya Halal Port diharapkan bisa menjadi salah satu penunjang kelancaran jalur distribusi produk halal baik dari dalam dan luar negeri. Selain kerjasama dengan MTI, LPPOM MUI juga melakukan MoU dengan  PT. Mukti Mitra Abadi dalam pengembangan metode serta implementasi pencucian alat produksi dan transportasi secara syar’i.

PT Multi Terminal Indonesia menggandeng LPPOM MUI untuk mengawal penerapan pelabuhan halal atau halal hub port di Pelabuhan Tanjung Priok Jakarta Utara.

 

Direktur Lembaga Pengkajian Pangan, Obat-obatan dan Kosmetika Majelis Ulama Indonesia (LPPOM MUI) Lukmanul hakim mengatakan kerja sama dengan PT Multi Terminal Indonesia (MTI)/IPC Logistics Services itu guna mewujudkan Indonesia memiliki halal hub port.

 

 Program Pelabuhan Halal atau Halal Hub Port (HHP) yang diusung PT Multi Terminal Indonesia (MTI) Tanjung Priok sejak beberapa bulan lalu, akhirnya terwujud dan siap dioperasikan secara penuh, Maret 2016 mendatang.

Pelabuhan halal telah mendapatkan restu Lembaga Pengkajian Pangan,Obat-obatan dan Kosmetika (LPPOM) Majelis   Ulama Indonesia (MUI).

keberadaan HHP untuk menghadapi pasar makanan halal yang sangat besar di tengah berlangsungnya pasar bebas Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA).
 


Fasilitas ini diharapkan menjadi inspiring people untuk lebih care pada produk makanan halal di Indonesia. Fasilitas HHP dilengkapi gudang seluas 6.624 m2 dan lapangan seluas 33.236 m2 akan dijadikan area transit bagi logistik dari negara non muslim dengan tujuan negara negara mayoritas berpenduduk muslim dan juga untuk distribusi dalam negeri. Melalui fasilitas HHP inilah barang tersebut diperiksa untuk menjamin kehalalannya bagi masyarakat muslim.Terutama pangan dan obat-obatan dari negara non Muslim yang belakangan ini membanjiri pasar RI.

pengembangan halal port di Indonesia ini merupakan momentum penting dalam perkembangan lalu lintas barang melalui pelabuhan laut. Hal ini mengingat tuntutan konsumen akan adanya pelabuhan halal di Indonesia semakin besar. halal hub port memerlukan standarisasi internasional agar barang-barang Indonesia yang sudah disertfikasi halal oleh MUI dan BPOM dapat diterima di negara lain.

 

kehalalan barang, makanan, dan minuman yang akan keluar masuk dari wilayah, termasuk yang akan masuk ke Indonesia agar terhindar dari kontaminasi produk-produk yang tidak halal. Melalui pelabuhan halal ini, untuk memastikan bahwa produk tersebut yang akan diekspor memang sudah mendapatkan sertifikasi halal setelah keluar dari pabrik, dan akan diekspor ke luar negeri. “Nanti yang melakukan pengawasan mereka yang di lapangan

 

pembangunan fasilitas halal hub port ini selain dapat dipandang sebagai suatu strategi bisnis untuk menghadapi pasar makanan halal yang pasarnyanya sangat besar, juga dapat dipandang  dari sisi lain yaitu inspiring people untuk lebih perhatian pada produk makanan halal.  

 

Apalagi sekarang ini diberlakukan MEA (Masyarakat Ekonomi ASEAN) kita perlu hati-hati mengenai barang, atau produk makanan dan minuman yang akan masuk ke Indonesia. Kita harus meneliti atau mengawasi kehalalannya. Lokasi pelabuhan halal yang nantinya sebagai tempat arus lalu lintas barang ekspor dan impor ini lokasinya berada di Tanjung Priok dengan luas enam hektar. Pengembangan halal port yang menelan dana sekitar Rp 2 miliiar.

 

 Indonesia perlu memiliki halal hub port atau pelabuhan halal mengingat besarnya potensi bisnis di industri produk halal di dalam dan luar negeri.Indonesia membangun halal hub port layaknya Malaysia, maka transhipment barang impor dari Australia bisa menjadi sasaran pengelolaan.  Selama ini, Northport Malaysia banyak mengelola produk dari China, Thailand dan Myanmar yang masuk ke halal hub port untuk disertifikasi halal, repacking dan dikirim kembali ke Timur Tengah.

salah satu isu penting terkait pelaksanaan pasar bebas yaitu produk maupun jasa halal. Indonesia sendiri telah memiliki Undang-Undang No 33/2014 tentang Jaminan Produk Halal.

Produk halal dan tidak halal kini telah menjadi isu universal. Sejumlah negara di Eropa dan Asia yang mayoritas penduduknya bukan muslim juga tertarik mengadopsi, mengingat di dalam konsep halal diatur juga masalah produk bersih dan sehat. saat ini Malaysia sudah memiliki lima pelabuhan halal. Terkait pelaksanaan Olimpiade Musim Panas 2020, Jepang juga bersiap melayani kunjungan wisatawan muslim. Sementara sejumlah agen perjalanan wisata Korea dan Vietnam kini sudah menerapkan konsep halal tourism.

Penulis  Adalah Dosen  Fakultas Ekonomi Bisnis Islam Universitas Islam Negeri Sumatera Utara dan Penulis Produktif di Harian Waspada