Arsip Agenda -> Agenda

Agenda

Tanggal : 2016-05-31 | Waktu : 13:12:59
ARTIKEL KEDELAPAN DOSEN FEBI (SUNARJI HARAHAP, M.M.) DENGAN JUDUL MAKANAN HALAL DAN PERBANKAN SYARIAH ( Diskusi Waspada - Prodi Pascasarjana UIN SU ) Edisi 17 Mei 2016

MAKANAN HALAL DAN PERBANKAN SYARIAH

(Diskusi Waspada – Prodi Ekonomi Islam UIN SU)

Waspada, 17 Mei 2016. Sangat menarik judul diatas yang menjadi bahasan Diskusi Waspada – Prodi Ekonomi Islam UIN SU. Forum Group Discussion (FGD) UIN SU.

 

Produk Halal adalah Produk yang telah dinyatakan halal sesuai dengan syariat Islam. 3. Proses Produk Halal yang selanjutnya disingkat PPH adalah rangkaian kegiatan untuk menjamin kehalalan Produk mencakup penyediaan bahan, pengolahan, penyimpanan, pengemasan, pendistribusian, penjualan, dan penyajian Produk.

Kebutuhan produk halal tak hanya bagi masyarakat muslim, tetapi kebutuhan masyarakat nonmuslim juga. Jika suatu produk halal, berarti produk tersebut aman dikonsumsi, sehat dan tidak mengandung sumber-sumber penyakit di dalamnya. Hal ini kemudian menyebabkan berbagai produk dan identitas tempat perdagangan di luar negeri semakin banyak mencantumkan label halal. Label halal tersebut pun kini telah menjadi keunggulan dan value added yang ditawarkan kepada konsumen.

Menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) yang akan berlangsung akhir tahun ini, potensi bisnis halal tersebut pun mulai digarap. Bahkan, negara yang mayoritas bukan muslim, seperti Singapura dan Thailand sudah memulai menggarap pusat produk halal di negaranya. Negara-negara tersebut paham betul, bahwa menjual produk makanan bagi konsumen turis dari negara-negara muslim harus identik dengan produk halal. Indonesia semestinya menyadari bahwa menjual produk halal adalah kebutuhan dan kewajiban. Harus muncul paradigma ke depan bahwa sebagian besar produk makanan, bahan makanan, dan jasa tertentu di Indonesia sudah pasti kehalalannya. Apalagi sebagai negara dengan penduduk muslim terbanyak di dunia.

Konsep halal dapat dipandang dari dua perspektif yaitu pertama perspektif agama yaitu sebagai hukum makanan sehingga konsumen muslim mendapat hak untuk mengkonsumsi makanan sesuai keyakinannya. Ini membawa konsuekensi adanya perlindungan konsumen. Yang kedua adalah perspektif industri. Bagi produsen pangan, konsep halal ini dapat ditangkap sebagai suatu peluang bisnis. Bagi industri pangan yang target konsumennyasebagian besar muslim, maka tentu saja dengan adanya jaminan kehalalan produk akan meningkatkan nilainya yang berupa intangiblevalue.Produk pangan yang kemasannya tercantum label halal akan meningkatkan daya tarik bagi konsumen muslim.

 

produk pangan (Makanan dan Minuman) adalah produk yang paling besar disertifikasi halal. World Halal Food Council (WHFC) merilis bahwa saat ini kesadaran memenuhi hak atas pangan halal oleh produsen terus meningkat secara global. Di negara-negara yang mayoritas beragama non-muslim pun sudah banyak yang menerapkan prinsip halal bagi produk-produknya.
 Pangan halal adalah kebutuhan setiap muslim, banyak ayat alquran maupun hadis yang menegaskan keharusan konsumsi halal. Hukum halal pada makanan,dalam Islam tidak hanya sekedar doktrin agama, tetapi justru menjamin bahwa makanan tersebut sehat dan aman yang secara ilmiah masuk akal (scientifically sound). 

Sertifikat Halal adalah suatu fatwa tertulis dari Majelis Ulama Indonesia (MUI) yang menyatakan kehalalan suatu produk. Sertifikat Halal ini merupakan syarat untuk mendapatkan ijin pencantuman LABEL HALAL pada kemasan produk dari instansi pemerintah yang berwenang.Pengadaan Sertifikasi Halal pada produk pangan, obat-obat, kosmetika dan produk lainnya sebenarnya bertujuan untuk memberikan kepastian status kehalalan suatu produk, sehingga dapat menentramkan batin konsumen muslim. Berdasarkan Lembaga Pengkajian Pangan, Obat-obatan dan Makanan Majelis Ulama Indonesia ( LPPOM MUI) Syarat kehalalan sebuah produk tersebut meliputi:

  1. Tidak mengandung DNA babi dan bahan-bahan yang berasal tradisional dari babi
  2. Tidak mengandung bahan-bahan yang diharamkan seperti; bahan yang berasal dari organ tubuh manusia, darah, dan kotoran-kotoran.
  3. Semua bahan yang berasal dari hewan yang disembelih dengan syarikat Islam.
  4. Semua tempat penyimpanan tempat penjualan pengolahan dan transportasinya tidak boleh digunakan untuk daging babi; jika pernah digunakan untuk daging babi atau barang yang tidak halal lainnya terlebih dahulu dibersihkan dengan tata cara yang diatur menurut syariat.

Pengusaha jangan hanya menerapkan prinsip ekonomi dengan meraih keuntungan tanpa memperhatikan kondisi kesehatan konsumen, tetapi Pengusaha haruslah lebih mengedepankan etika bisnis produksi yang etis dengan memberikan produk yang terbaik bagi kesehatan konsumen , dimana didalam pembuatan bakery tersebut jangan sampai memakai bahan bahan yang dapat merusak kesehatan, apalagi terindikasi bahan bahan haram yang tidak layak dikonsumsi oleh konsumen. Inilah peran dan tanggung jawab pemerintah kota Medan ,DPRD,  Organisasi Islam, LSM dan terkhusus  Majelis Ulama Indonesia  harus mampu memberikan sosialisasi betapa pentingnya sertifikasi halal

Bagi produsen produk halal  baik bagi  pengusaha muslim maupun non muslim untuk berupaya mengembangkan dan meningkatkan produksi produk  halal sehingga mampu berkompetisisi di pasar dunia.Untuk dapat mengambil peran dominan pada market pangan halal dunia, tentunya produk halal Indonesia harus mampu meyakinkan market halal dengan produk yang berkualitas, salah satunya sertifikat halal yang melekat sebagai salah satu indikator kualitas produk dapat memberikan jaminan kualitas halal atas produk dimaksud. Ini akan menjadi kebutuhan akan terwujudnya kesiapan yang handal, tangguh serta ungggul dalam pembangunan dibidang produk halal domestik.

Data dari State of The Global Islamic Economy 2014-2015 menyebutkan indicator  tren bisnis halal terlihat pada lima bidang industri terus menunjukkan kemajuan. Antara lain jasa keuangan Islami (Islamic finance), makanan halal, busana muslim, media dan rekreasi halal, serta farmasi dan kosmetika halal.

Produk yang menjadi pengisi pasar halal pun sekarang sudah tidak hanya seputar makanan dan minuman saja, namun telah meluas ke industri obat, vaksin, kosmetik, fashion, hingga industri pariwisata seperti hotel dan travel. Melihat respon positif dari dunia, gaya hidup halal menjadi mudah diterapkan di seluruh belahan dunia. Bahkan, di Jepang, Korea, Thailand, hingga Singapura yang memiliki penduduk heterogen, teknologi pemeriksa halalnya sudah canggih dan akurat.

proses pengadaan produk halal harus terintegrasi dari hulu hingga ke hilir. Kebutuhan tersebut salah satunya harus dipenuhi pada sistem suplai dan rantai pasok halal. Misalnya, pengadaan peternakan dan rumah potong hewan yang dijamin halal pada hulu sistem, sistem logistik halal, dan pelabuhan halal pada bagian hilir, dan seterusnya.

Indonesia merupakan negara berpenduduk mayoritas Muslim terbesar di dunia. Namun anehnya, gerakan-gerakan halal justru diprakarsai oleh negara-negara yang penduduk Muslimnya minoritas. Misalnya, Vietnam. Vietnam kini telah mempromosikan konsep Vietnam Moslem Tourism –Wisata Muslim ke Vietnam. Isi kegiatannya kurang lebih turis akan diajak berkunjung ke tempat-tempat wisata di sana, kemudian makan di restoran halal. Konsep sederhana yang Indonesia pun lebih dari mampu untuk memasarkannya. Di Belanda misalnya, telah berdiri pelabuhan halal di Kota Roterdam. Singapura bahkan sudah mendeklarasikan diri sebagai Global Halal Hub atau pusat internasional untuk halal, hanya dengan modal menjadi tetangga Indonesia.

 

Industri makanan halal merupakan salah satu potensi yang bisa dikembangkan. Pemerintah pernah menawarkan berbagai produk makanan halal asli Indonesia untuk diekspor ke Republik Tartastan, di mana 51 persen masyarakat di negara federasi Rusia itu beragama Islam.Potensi ekspor produk-produk halal Indonesia untuk dipasarkan di negara-negara pecahan Rusia sangat besar, tidak hanya di Tartastan. Ada sekitar 20 juta umat muslim di kawasan itu.Pemerintah mengklaim bahwa selain telah memenuhi persyaratan sesuai dengan ketentuan syariah Islam, makanan halal produk Indonesia dijamin higienis dan sehat. Hampir sebagian besar produk makanan Indonesia dalam kemasan baik dan itu sudah berlabel halal.

Perdagangan Indonesia dengan Federasi Rusia nilainya telah mencapai US$3,37 miliar pada 2012. Angka tersebut meningkat dua kali lipat dari 2008 sebesar US$1,64 miliar.

Geliat tren bisnis produk halal di Indonesia bisa dilihat Berdasarkan data dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (Badan POM), jumlah produk yang beredar di masyarakat sebanyak 194.776. Namun, hanya setengahnya yang telah memiliki sertifikat halal dari Majelis Ulama Indonesia (MUI) dalam masa berlaku tahun 2013 – 2015. Jumlah produk bersertifikat halal tersebut ada sebanyak 98.543 atau memiliki prosentase sebesar 50,6 persen.
Indonesia merupakan salah satu negara dengan pemeluk agama Islam terbesar di dunia. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pada 2010 total penduduk Indonesia mencapai 238 juta jiwa dengan jumlah penganut agama Islam mencapai 87 persen atau sekitar 207 juta jiwa.

Perbankan syariah atau perbankan Islam (adalah suatu sistem perbankan yang pelaksanaannya berdasarkan hukum Islam (syariah). Pembentukan sistem ini berdasarkan adanya larangan dalam agama Islam untuk meminjamkan atau memungut pinjaman dengan mengenakan bunga pinjaman (riba), serta larangan untuk berinvestasi pada usaha-usaha berkategori terlarang (haram). Sistem perbankan konvensional tidak dapat menjamin absennya hal-hal tersebut dalam investasinya, misalnya dalam usaha yang berkaitan dengan produksi makanan atau minuman haram, usaha media atau hiburan yang tidak Islami, dan lain-lain.

Meskipun prinsip-prinsip tersebut mungkin saja telah diterapkan dalam sejarah perekonomian Islam, namun baru pada akhir abad ke-20 mulai berdiri bank-bank Islam yang menerapkannya bagi lembaga-lembaga komersial swasta atau semi-swasta dalam komunitas muslim di dunia.

Ada Beberapa Perbedaan Perbankan Syariah dengan Perbankan Konvensional, Perbankan Syariah Memiliki ciri ciri : 1. Melakukan hanya investasi yang halal menurut hukum Islam, 2. Memakai prinsip bagi hasil, jual-beli, dan sewa, 3. Berorientasi keuntungan dan falah (kebahagiaan dunia dan akhirat sesuai ajaran Islam), 4. Hubungan dengan nasabah dalam bentuk kemitraan, 5.Penghimpunan dan penyaluran dana sesuai fatwa Dewan Pengawas Syariah. Sedangkan Perbankan Konvensional memiliki ciri ciri : 1. Melakukan investasi baik yang halal atau haram menurut hukum Islam, 2.Memakai perangkat suku bunga, 3.Berorientasi keuntungan, 4.Hubungan dengan nasabah dalam bentuk kreditur-debitur, 5.Penghimpunan dan penyaluran dana tidak diatur oleh dewan sejenis.

 Hal ini menjadi pembeda dimana perbankan syariah memiliki prinsip  yang bertujuan membawa kemaslahatan bagi nasabah, karena menjanjikan keadilan yang sesuai dengan syariah dalam sistem ekonominya. Perbedaan yang sangat menjadi menonjol adalah perbankan konvensional terdapat didalam nya  RIBA, sedangkan Perbankan Syariah lebih pada Prinsip Bagi Hasil.

Adanya perbankan syariah di Indonesia dipelopori oleh berdirinya Bank Muamalat Indonesia yang diprakarsai oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI)dengan tujuan mengakomodir berbagai aspirasi dan pendapat di masyarakat terutama masyarakat Islam yang banyak berpendapat bahwa bunga bank itu haram karena termasuk riba dan juga untuk mengambil prinsip kehati-hatian. Apabila dilihat dari segi ekonomi dan nilai bisnis, ini merupakan terobosan besar karena penduduk Indonesia 80% beragama Islam, tentunya ini bisnis yang sangat potensial. Meskipun sebagian orang Islam berpendapat bahwa bunga bank itu bukan riba tetapi faedah, karena bunga yang diberikan atau diambil oleh bank berjumlah kecil jadi tidak akan saling dirugikan atau didzolimi, tetapi tetap saja bagi umat Islam berdirinya bank-bank syariah adalah sebuah kemajuan besar.

Sistem perbankan syariah di Indonesia masih berinduk pada Bank Indonesia. Idealnya, pemerintah Indonesia mendirikan lembaga keuangan khusus syariah yang setingkat Bank Indonesia, yaitu Bank Indonesia Syariah.

Penulis

Sunarji Harahap, M.M.

Dosen Fakultas Ekonomi Bisnis Islam (FEBI) Universitas Islam Negeri Sumatera Utara dan Penulis Aktif Opini Harian Waspada