Arsip Agenda -> Agenda

Agenda

Tanggal : 2016-06-15 | Waktu : 22:31:09
Diskusi Minggu Pertama Ramadhan 1437 H dengan Tema : Puasa dalam Berbagai Dimensi

Medan , 09 Juni 2016. Forum Diskusi Dosen UIN SU  Menyelenggarakan Diskusi Minggu Pertama Ramadhan 1437 H. Hadir Pada  Saat Acara Forum Diskusi Dosen (FDD) sekaligus memberikan kata sambutan: Dr. H. Muhammad Yafiz, M.Ag (Wakil Dekan I ) menyampaikan bahwa Diskusi ini menjadi sarana meraih keberkahan majelis ilmu di bulan Ramadhan. Ada 3 Pemateri yang mengisi dalam diskusi , tetapi berhubung pemateri kedua Ibu Chuzaimah Batubara, MA ( Wakil Dekan II)  berhalangan hadir dikarenakan tugas keluar kota sehingga acara diskusi ini diisi oleh 2 pemateri, 1. Dr. H. Azhari Akmal Tarigan, M.Ag  ( Dekan FEBI UIN SU ) , 2. Dr. M. Ridwan, MA (Wakil Dekan III) .

Hadir juga sebagai moderator  dalam diskusi dan Ketua (FDD)  M.Latif Ilhamy Nst,MA, Sekjen FDD Sunarji Harahap, M.M.serta Para anggota. Para Peserta yang hadir  para Ketua Prodi dan Dosen Dosen FEBI dan Dosen Luar FEBI, karena kegiatan ini bersifat umum. Dapat dilihat antusias para peserta dalam diskusi sangat baik, dengan adanya banyaknya pertanyaan yang disampaikan peserta dan ditutup dengan pemberian Doorprize Buku Buku yang sangat menarik untuk dibaca diberikan kepada para peserta yang beruntung.

Pemateri I oleh Dr. H. Azhari Akmal Tarigan, M.Ag menyampaikan bahwa materi  ini diambil dari buku yang ditulis Dr. Muchlis Hanafi yang berjudul Pengantin Ramadhan, Makna, Hikmah, dan Tanya Jawab Seputar Puasa.  Ramadhan bukan hanya bulannya al-Qur’an, tetapi lebih dari itu, ia juga bulannya Kitab Suci. Sebab, hampir semua Kitab Suci diturunkan Allah kepada para nabi-Nya pada bulan Ramadhan. Jika Ramadhan dianalogikan dengan sebuah resepsi atau pesta, bintang atau pengantin dari perhelatan tersebut adalah al-Qur’an. Puasa dengan berbagai amalan Ramadhan lainnya adalah media dan cara yang diajarkan oleh Allah dan Rasul-Nya untuk merayakan dan menyambut kedatangan sang pengantin. Sayangnya, banyak di antara kita yang hanya berfokus pada media dan sarananya, sementara tamu dan pengantin sesungguhnya terabaikan.

Ramadhan menjadi mulia karena didalam nya Alqur’an diturunkan. Hal ini terdapat pada QS. Al Baqarah : 185 . Bulan Ramadhan adalah bulan yang didalamnya Al Qur’an diturunkan , petunjuk bagi manusia , penjelas atas segala petunjuk bagi manusia, penjelas atas segala sesuatu dan Al Qur’an sebagai Pembeda antara hak dan bathil. Penjelasan tambahan juga bisa didapat pada Surah AL-Qadr ditemukan informasi yang sama.

Ramadhan adalah momentum terbaik memperbaiki hubungan dengan Al Qur’an. Dalam sebuah hadits Nabi bersabda yang maknanya, Bacalah Al Qur’an. Sesungguhnya Ia akan dating pada hari Kiamat untuk memberi Syafa’at (rekomendasi)  bagi sahabatnya. Kita harus bersahabat dengan AL Qur’an, dalam arti bukan lah hanya sebatas tahu atau kenal, tetapi lebih dari itu , Sahabat berarti terjalinnya hubungan erat . Interaksi nya tidak tergantung suasana dan masa. Ia akan mengfungsikan AL Qur’an sehari hari.

Semoga kita dapat mengetahui  dan memanfaatkan dari makna dan hikmah Ramadhan, meningkatkan kualitas ibadahnya di bulan Ramadhan dengan Bersahabat dengan AL Qur’an.

Pemateri II oleh Dr. M. Ridwan, M.Ag menyampaikan adalah Tak ada seorang Muslim pun yang tidak bergembira dengan datangnya bulan suci Ramadhan. Hal ini mengingat begitu banyak anugerah dan ampunan Allah yang turun pada bulan suci ini. Berbagai amal dilipatgandakan pahalanya, setan diborgol, pintu neraka ditutup rapat-rapat, dan pintu surga dibuka lebar-lebar. Lalu mengapa dalam bidang ekonomi kita tidak hanya bergembira tetapi masih harus “bersedih” dan muhasabah (menghitung diri)?

Tulisan singkat ini dimaksudkan agar kita merenung dan menghitung posisi umat dalam bidang tijarah dan iqtishad (bisnis dan perdagangan) yang terjadi selama bulan Ramadhan. Kita mulai dengan aspek yang menggembirakan. Tidak kurang dari 15 abad yang lalu, Rasulullah saw bersabda, “Ramadhan adalah bulan sabar, dan sabar balasannya adalah surga, Ramadhan adalah bulan pertolongan dan Ramadhan adalah bulan di mana kaum Muslimin ditambahkan rezekinya.” (HR Ibn Huzaimah).

Melalui hadis ini seolah Rasulullah memprediksi bahwa kaum Muslimin akan mengalami suatu pertumbuhan ekonomi dalam setiap bulan Ramadhan melebihi rata-rata bulan lainnya. Benarkah prediksi Rasulullah ini? Mari kita lihat fenomena berikut. Dari sisi pendapatan setiap karyawan di Indonesia baik Muslim maupun non-Muslim, swasta maupun pemerintah pasti akan bertambah menjadi 200 persen lebih banyak dari pendapan bulan-bulan biasa. Pertambahan 100 persen ini dimungkinkan dengan adanya Tunjangan Hari Raya (THR) yang sudah menjadi kewajiban perusahaan dan instansi serta hak karyawan. Berbagai bonus pun seringkali diberikan pada bulan suci ini.

Pertambahan income ini terjadi pula di sektor sosial (nonkomersial). Sesuai dengan rangsangan Allah yang tertuang dalam sebuah hadis qudsi yang intinya menegaskan bahwa barang siapa berinfak di bulan suci Ramadhan maka akan dilipatgandakan pahalanya menjadi 10 kali lipat bahkan hingga 700 kali lipat lebih besar dari pahala bulan biasa. Oleh karena itu, tidak heran kalau zakat, infaq, shadaqah yang berhasil dihimpun oleh Dompet Dhuafa Republika, Pos Keadilan Peduli Ummat, Baitul Maal Muamalat, serta lembaga ZIS lainnya pada bulan Ramadhan bisa mencapai empat hingga lima kali perolehan bulan-bulan biasa. Dengan kata lain purchasing power (daya beli) umat pada bulan suci Ramadhan bertambah tinggi minimal dua kali lipat lebih besar dari bulan-bulan biasanya.

Berkat peningkatan purchasing power ini kita menyaksikan fenomena kegembiraan kedua yaitu meningkatnya roda perdagangan dan bertambahnya jumlah barang dan jasa yang dibeli umat. Peningkatan ini terjadi di hampir semua sektor seperti angkutan, elektronika, pakaian dan busana, kue kering dan biskuit, sirup dan minuman, kendaraan roda dua dan empat, dan barang kebutuhan rumah tangga lainnya. Sehingga tidak jarang tingkat inflasi pun mencapai titik tertinggi pada bulan suci ini.