Arsip Berita -> Berita

Berita

Tanggal : 2019-07-05 | Waktu : 07:52:25
Menyikapi Harta Kekayaan dalam Islam

Medan (FEBI UIN SU)

Dekan FEBI Dr. Andri Soemitra, MA Memberikan Materi Tentang Menyikapi Harta Kekayaan dalam Islam di Kompas TV, Kamis 4/7/19. Dr. Andri Soemitra menyampaikan bahwa muslim mesti kaya karena kekayaan ditangan orang saleh akan jauh lebih maslahat dan bermanfaat,

Hal ini tentunya terdapat pada sabda Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam: "Sungguh terpuji harta yang suci itu bagi orang-orang saleh. Selain itu, beliau juga mengatakan,"Sesungguhnya kefakiran (kemiskinan) itu bisa menjerumuskan ke jurang kekafiran." Maka tidaklah mengherankan bila kemudian banyak cerita seputar orang Islam yang murtad hanya demi satu kardus mie instan, roti dan biaya pendidikan. Keimanan mereka telah tergadaikan oleh kemiskinan. Na'udzubillah!

Untuk apa kekayaan bagi orang Islam? Tentu saja untuk beribadah kepada Allah, untuk berdakwah, membantu yang miskin, untuk umat. Seluruh harta kekayaan tersebut digunakan untuk menyembah Allah dengan lebih bersungguh-sungguh. Secara total. Sebab Allah berfirman,"Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku."

Bagaimana seseorang dapat shalat dengan tenang sementara perutnya kelaparan? Bagaimana dapat berdzikir dengan tenang di tengah tangis anak yang meminta susu dan makanan? Bagaimana bisa bersedekah, zakat ataupun haji bila tidak memiliki uang? Bagaimana bisa menjaga harga diri sebagai muslim jika untuk membangun pesantren dan masjid harus meminta-minta di jalanan. Bagaimana kita menjaga kehormatan agama bila ayat-ayat Allah "dijual" dengan recehan?

 Menjadi miskin adalah bahaya. Sebab miskin, ada suami yang rela menjual istrinya. Karena miskin ada ibu yang stres sehingga tega membakar anak-anaknya. Kemiskinan pula yang membuat seseorang terpaksa mencopet, mencuri dan mengemis. Kemiskinan pula yang membuat goyah iman seseorang sebab diiming-iming hidup yang nyaman.


Anjuran untuk berharta atau menjadi kaya, bukan berarti Rasulullah mengajarkan hidup materialistis. Rasulullah dan Khadijjah adalah keluarga kaya, tetapi kekayaan tersebut digunakan untuk perjuangan Islam. Kekayaan dapat menjaga harta diri dan martabat. Dengan kekayaan maka dapat beribadah dengan tenang.

Kaya di tangan orang yang tidak beriman hanya akan menghasilkan kesengsaraan bagi sekitarnya. Orang yang tidak beriman akan bersikap bakhil. Mereka akan memanfaatkan harta untuk kesombongan diri. Mereka akan memanfaatkan harta untuk kesombongan diri. Mereka lebih hebat, lebih kuasa dan bisa membeli apa saja.

Sementara kaya di tangan orang saleh adalah kemaslahatan untuk semua. Mereka akan menggunakan kekayaan tersebut untuk sarana ibadah, ladang menabur amal. Harta tersebut menjadi amanah bagi mereka sehingga hanya digunakan untuk kebaikan semata.