Medan, 14 Mei 2026 – Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) UIN Sumatera Utara kembali menegaskan eksistensinya sebagai pusat keilmuan global dengan menggelar konferensi internasional bertajuk:
“The Impact of the Iran–US–Israel Conflict on Investment and Global Economic Growth, Viewed from a Sharia Economic Perspective.”
Diselenggarakan pada 14–15 Mei 2026 di Aula FEBI Kampus IV UIN Sumatera Utara Tuntungan, konferensi ini bukan sekadar forum akademik biasa. Ia menjadi ruang refleksi global, ruang pertemuan gagasan lintas negara, dan panggung dialog peradaban tentang bagaimana konflik geopolitik memengaruhi investasi, stabilitas pasar, dan pertumbuhan ekonomi dunia — serta bagaimana ekonomi syariah menawarkan jalan keluarnya.
Di tengah ketegangan global yang berdampak pada pasar keuangan internasional, rantai pasok, hingga stabilitas investasi, FEBI UIN Sumatera Utara menghadirkan perspektif yang berbeda: bahwa ekonomi tidak boleh dilepaskan dari nilai, dan pertumbuhan tidak boleh berdiri tanpa keadilan.
Forum Global, Gagasan Global
Konferensi ini menghadirkan tokoh-tokoh internasional yang memiliki reputasi akademik dan pengalaman global.
Dari Qatar, Muhammad Mahmoud Al Jamal, Associate Professor di Universitas Hamad bin Khalifa, menyampaikan pandangan yang menggugah:
“Ketika konflik terjadi, pasar bereaksi dengan ketakutan. Namun ekonomi syariah mengajarkan bahwa stabilitas tidak dibangun di atas spekulasi, melainkan pada aset riil dan keadilan distribusi. Dunia tidak membutuhkan lebih banyak ketakutan — dunia membutuhkan sistem yang beretika.”
Dari Yordania, Prof. Dr. Abdel Nasser Abu Al Bassal, akademisi sekaligus tokoh waqf internasional, memberikan pernyataan yang mengubah cara pandang peserta:
“Kita terlalu lama membangun ekonomi dengan logika kekuatan. Sudah saatnya membangun ekonomi dengan logika tanggung jawab. Dunia Islam memiliki mandat moral untuk menawarkan model ekonomi yang adil, bukan sekadar kompetitif.”
Dari Palestina, Anas Zahira Al Misri, Ph.D., menekankan makna ketahanan dalam konteks konflik nyata:
“Kami hidup di wilayah yang merasakan langsung dampak konflik. Yang kami pelajari adalah: ekonomi yang kuat bukan hanya soal pertumbuhan, tetapi tentang solidaritas sosial. Tanpa keadilan, pertumbuhan hanyalah angka tanpa makna.”
Sementara itu, Ahed Ahmed Kamel Abu Al Ata, Presiden Foundation for Friendship and Studies of Civilizations, menyampaikan refleksi peradaban:
“Konflik menguji kemanusiaan kita. Ilmu pengetahuan seharusnya menjadi jembatan, bukan alat legitimasi kekuasaan. Ketika ekonomi dibangun dengan nilai, ia mampu menyembuhkan luka-luka peradaban.”
Dari Malaysia, Dr. Nur Farhah Binti Mahadi, Associate Professor IIUM Gombak Campus, menyampaikan perspektif strategis:
“Investasi global hari ini sangat sensitif terhadap ketidakpastian geopolitik. Namun ekonomi syariah menawarkan stabilitas berbasis transparansi, risk sharing, dan etika. Inilah masa depan sistem keuangan global yang lebih berkelanjutan.”
Pesan Visioner dari Dekan FEBI UIN Sumatera Utara
Dekan FEBI UIN Sumatera Utara, Prof. Dr. H. Muhammad Syukri Albani Nasution, M.A., menegaskan bahwa konferensi ini adalah bentuk tanggung jawab akademik dan moral.
“Konflik geopolitik tidak hanya mengguncang batas negara, tetapi juga mengguncang fondasi ekonomi dunia. Jika ekonomi dibangun hanya untuk keuntungan, maka ia akan rapuh. Namun jika ia dibangun atas keadilan dan kemaslahatan, maka ia akan menjadi rahmat bagi seluruh umat manusia.”
Beliau melanjutkan dengan pesan yang sangat reflektif:
“FEBI UIN Sumatera Utara ingin menghadirkan ekonomi yang bukan sekadar cerdas, tetapi juga beradab. Dunia tidak kekurangan ahli keuangan. Dunia kekurangan keberanian moral dalam membuat kebijakan. Di sinilah ekonomi syariah menemukan relevansinya.”
Pesan tersebut disambut antusias oleh peserta yang hadir, karena menggeser paradigma dari sekadar analisis konflik menuju solusi berbasis nilai.
Perspektif Strategis dari Ketua Magister Ekonomi Syariah
Ketua Program Magister Ekonomi Syariah UIN Sumatera Utara, Maryam Batubara, M.A., Ph.D., memberikan analisis mendalam yang membuka cakrawala baru.
“Konflik Iran–AS–Israel menunjukkan betapa rentannya sistem ekonomi global terhadap ketidakpastian politik. Namun kita harus bertanya: apakah sistem ekonomi kita cukup berakar pada nilai sehingga mampu bertahan?”
Beliau menekankan bahwa ekonomi syariah bukan sekadar alternatif, tetapi paradigma.
“Ekonomi syariah berbicara tentang maqashid — tentang menjaga harta, menjaga kehidupan, menjaga martabat manusia. Jika kebijakan investasi global berlandaskan maqashid, maka pertumbuhan akan menjadi inklusif dan berkelanjutan, bukan eksploitatif.”
Lebih jauh, ia mengajak generasi akademisi muda:
“Inilah momentum bagi intelektual Muslim untuk tidak hanya menjadi pengamat global, tetapi perancang masa depan. Dari ruang-ruang akademik seperti ini, kita dapat melahirkan model kebijakan yang mengubah arah sejarah ekonomi dunia.”
Delapan Isu Strategis yang Dibahas
Konferensi ini membedah delapan subtema penting, mulai dari investasi infrastruktur asing, proteksionisme perdagangan, kebebasan investasi sumber daya, keseimbangan perdagangan internasional, globalisasi ekonomi Islam, strategi manajemen pariwisata, sukuk internasional, hingga peran global negara-negara Muslim dalam membangun stabilitas ekonomi dunia.
Diskusi berlangsung dinamis, reflektif, dan penuh kedalaman intelektual. Para peserta tidak hanya mendengar, tetapi terlibat aktif dalam dialog lintas perspektif.
Dari Medan untuk Dunia
Dengan biaya yang inklusif dan fasilitas publikasi prosiding internasional, konferensi ini membuka ruang partisipasi luas bagi akademisi dan mahasiswa. Namun lebih dari itu, konferensi ini menjadi simbol.
Simbol bahwa dari Medan, gagasan besar dapat lahir untuk dunia.
Simbol bahwa ekonomi tidak boleh dilepaskan dari moralitas.
Simbol bahwa di tengah konflik, ilmu pengetahuan tetap menjadi jalan menuju perdamaian.
FEBI UIN Sumatera Utara menunjukkan bahwa perguruan tinggi bukan hanya pusat pendidikan, tetapi pusat perubahan peradaban.
Di tengah kompleksitas geopolitik global, suara berbasis nilai menjadi semakin penting. Dan melalui konferensi ini, UIN Sumatera Utara menegaskan: ekonomi syariah bukan hanya kajian akademik — ia adalah tawaran solusi untuk dunia yang lebih adil, stabil, dan bermartabat.
Saksikan Selengkapnya: Live Streaming on YouTube
Ditulis oleh:
Fachrul Riza, S.K.M., M.K.M.






































