LPTQ Sumut dan Satu Irama Qurani; Ikhtiyar Sumut yang Berkah

LPTQ Sumut dan Satu Irama Qurani; Ikhtiyar Sumut yang Berkah

Oleh Prof. Dr. H. Muhammad Syukri Albani Nasution, M.A.

Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) selama ini sering dipahami sebagai ajang perlombaan membaca, memahami, dan menghafal Al-Qur’an. Padahal, lebih dari itu, MTQ merupakan ikhtiar besar umat Islam untuk menghadirkan nilai-nilai Al-Qur’an dalam kehidupan nyata. Karena itu, penyelenggaraan MTQ ke-40 Provinsi Sumatera Utara Tahun 2026 mengusung tema “Satu Irama Tilawah, Satu Tekad Menuju Kolaborasi Sumut Berkah” sebagai sebuah cita-cita bersama dalam membangun masyarakat yang berlandaskan nilai-nilai Qurani.

Al-Qur’an: Warisan Terbesar Rasulullah SAW

Al-Qur’an merupakan warisan terbesar Rasulullah SAW bagi umat manusia. Melalui Al-Qur’an, manusia memperoleh petunjuk, arah kehidupan, sekaligus sumber inspirasi untuk membangun peradaban yang berkeadilan dan berkemajuan. Sejak dahulu hingga hari ini, Al-Qur’an tidak hanya menjadi bacaan yang menenangkan hati, tetapi juga menjadi sumber hikmah yang menguatkan jiwa, menghidupkan harapan, dan menuntun manusia menghadapi berbagai tantangan kehidupan.

Para ulama dan cendekiawan Muslim menjelaskan bahwa Al-Qur’an dapat didekati melalui berbagai cara. Ada yang menjadikannya sebagai bacaan yang menghadirkan ketenangan spiritual, ada yang memahaminya sebagai sarana mendekatkan diri kepada Allah SWT, dan ada pula yang menjadikannya sebagai objek kajian mendalam untuk menggali ilmu pengetahuan serta solusi atas berbagai persoalan kehidupan. Ketiga pendekatan tersebut menunjukkan bahwa Al-Qur’an tidak pernah terpisah dari realitas kehidupan manusia.

Tantangan Al-Qur’an dan Makna Kedekatan dengan Wahyu

Allah SWT memberikan tantangan kepada siapa saja yang meragukan keautentikan Al-Qur’an sebagaimana firman-Nya:

“Dan jika kamu berada dalam keragu-raguan tentang Al-Qur’an yang telah Kami turunkan kepada hamba Kami (Muhammad), maka buatlah satu surah yang semisal dengannya dan ajaklah penolong-penolongmu selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar.” (QS. Al-Baqarah: 23).

Ayat ini menunjukkan bahwa Allah SWT memberikan tantangan kepada siapa saja yang masih meragukan kebenaran Al-Qur’an. Oleh karena itu, sikap malas atau enggan untuk dekat dan akrab dengan Al-Qur’an dapat menjadi indikasi lemahnya keyakinan terhadap petunjuk yang terkandung di dalamnya. Tantangan tersebut justru seharusnya menjadi penguat bagi umat Islam untuk semakin mencintai, mempelajari, dan memaknai Al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari.

Karena itu, umat Islam tidak seharusnya menjadikan Al-Qur’an sebagai bacaan yang hadir hanya pada waktu-waktu tertentu atau dalam kondisi tertentu saja. Al-Qur’an harus menjadi sahabat kehidupan. Semakin dekat seseorang dengan Al-Qur’an, semakin besar peluang dirinya memperoleh ketenangan, optimisme, kekuatan moral, serta kebijaksanaan dalam menjalani kehidupan.

Memaknai Tema MTQ ke-40 Sumatera Utara

Dalam konteks itulah tema MTQ ke-40 Sumatera Utara menemukan relevansinya.

Frasa “Satu Irama Tilawah” tidak dimaksudkan sebagai penyatuan ragam lagu atau maqamat dalam seni tilawah, melainkan sebagai simbol keselarasan langkah dan kesatuan tujuan masyarakat Sumatera Utara. Sebagaimana lantunan tilawah yang indah lahir dari keteraturan nada dan keharmonisan irama, demikian pula masyarakat Sumatera Utara diharapkan mampu membangun sinergi, kolaborasi, dan semangat kebersamaan dalam mewujudkan kesejahteraan bersama.

Sementara itu, frasa “Satu Tekad Menuju Kolaborasi Sumut Berkah” merupakan ajakan untuk menjadikan nilai-nilai Al-Qur’an sebagai fondasi pembangunan daerah. Keberkahan tidak hanya diukur dari pertumbuhan ekonomi atau capaian pembangunan yang bersifat material, tetapi juga dari tumbuhnya rasa saling mengayomi, saling menyayangi, saling mendukung, serta saling berkontribusi dalam kehidupan bermasyarakat.

Inilah wajah Sumatera Utara yang dicita-citakan: masyarakat yang produktif membangun, kuat dalam persaudaraan, dan kokoh dalam nilai-nilai keagamaan.

MTQ sebagai Gerakan Kebudayaan dan Sosial

Oleh sebab itu, MTQ ke-40 bukan sekadar kompetisi. MTQ adalah gerakan kebudayaan dan gerakan sosial yang bertujuan membumikan Al-Qur’an di tengah masyarakat.

Keberhasilan MTQ tidak hanya diukur dari lahirnya qari dan qariah terbaik, tetapi juga dari meningkatnya kecintaan masyarakat terhadap Al-Qur’an, berkurangnya berbagai penyakit sosial, meningkatnya kualitas pendidikan keagamaan, serta tumbuhnya kesejahteraan masyarakat yang berlandaskan nilai-nilai Qurani.

Dalam perspektif yang lebih luas, MTQ menjadi sarana untuk memperkuat karakter masyarakat yang religius, harmonis, dan berorientasi pada kemajuan bersama.

Ikhtiar LPTQ Sumatera Utara

LPTQ Sumatera Utara di bawah kepemimpinan H. M. Yasir Tanjung sebagai Ketua Harian berupaya menghadirkan pendekatan yang lebih komprehensif terhadap Al-Qur’an. Al-Qur’an tidak hanya dibaca dan dilombakan, tetapi juga dipahami, diamalkan, serta dijadikan inspirasi dalam membangun sistem kehidupan masyarakat.

Salah satu ikhtiar yang terus didorong adalah program “Satu Desa Satu Guru Mengaji”, sebagai langkah nyata dalam memberantas buta aksara Al-Qur’an di tengah masyarakat Muslim Sumatera Utara. Program ini menjadi bentuk konkret dari semangat membumikan Al-Qur’an hingga ke tingkat akar rumput.

Momentum Kebangkitan Kesadaran Qurani

MTQ ke-40 Provinsi Sumatera Utara yang berlangsung pada 15 hingga 24 Juni 2026 menjadi momentum penting untuk memperkuat semangat tersebut. MTQ ini diharapkan menjadi simbol bangkitnya kesadaran kolektif umat Islam untuk menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman kehidupan sekaligus sumber inspirasi pembangunan daerah yang berkelanjutan.

Melalui MTQ, masyarakat diajak untuk tidak hanya menikmati keindahan lantunan ayat-ayat suci, tetapi juga mengimplementasikan pesan-pesan Al-Qur’an dalam kehidupan keluarga, pendidikan, ekonomi, sosial, dan pembangunan daerah.

Menuju Sumut Berkah

Mari bersama-sama menyemarakkan, mendukung, dan mendoakan pelaksanaan MTQ ke-40 Provinsi Sumatera Utara. Semoga ikhtiar ini menghadirkan keberkahan dari Allah SWT, memperkuat kolaborasi seluruh elemen masyarakat, serta mengantarkan Sumatera Utara menjadi daerah yang maju, sejahtera, berkelanjutan, dan senantiasa berada dalam naungan ridha Allah SWT.

Dengan semangat “Satu Irama Tilawah, Satu Tekad Menuju Kolaborasi Sumut Berkah”, MTQ ke-40 diharapkan menjadi penggerak lahirnya masyarakat Qurani yang tidak hanya gemar membaca Al-Qur’an, tetapi juga mampu menjadikannya sebagai pedoman dalam membangun kehidupan yang lebih baik, menuju cita-cita Baldatun Thayyibatun wa Rabbun Ghafur.

Membangun Ekosistem Ilmu yang Berdampak: Peran Strategis UIN Sumatera Utara dalam Workshop Tri Dharma Perguruan Tinggi Nasional oleh Sakinah Finance!

Delegasi UIN Sumatera Utara Teguhkan Komitmen Nasional dalam Penandatanganan Kesepakatan Bersama Tri Dharma dan Peningkatan Kualitas SDM

Jakarta — Semangat kolaborasi nasional kembali menemukan momentumnya dalam agenda bertajuk Penandatanganan Kesepakatan Bersama Tri Dharma Perguruan Tinggi dan Peningkatan Kualitas Sumber Daya Manusia yang diinisiasi oleh Sakinah Finance, dan digelar pada 16–17 Mei 2026 di Sofyan Hotel Cut Meutia, Cikini, Menteng, Jakarta Pusat.

Forum dua hari yang berlangsung dinamis dan penuh gagasan strategis ini mempertemukan pimpinan perguruan tinggi, perwakilan sekolah dan madrasah, pelaku industri, serta praktisi perbankan syariah dari berbagai daerah di Indonesia. Seluruh peserta disatukan oleh satu visi besar: menghadirkan integrasi nyata antara dunia akademik dan kebutuhan industri demi melahirkan sumber daya manusia unggul, adaptif, dan berintegritas.

Dalam forum penting ini, UIN Sumatera Utara mengambil peran aktif melalui delegasi resmi yang terdiri dari Dr. Nurlaila, S.E., M.A., CMA., CAPF., CIBA., CERA. selaku Ketua Program Studi S2 Akuntansi Syariah FEBI, serta Dr. Maidalena, S.T., M.M., Dosen UIN Sumatera Utara. Kehadiran keduanya menjadi representasi komitmen institusi dalam mengawal transformasi Tri Dharma yang lebih kontekstual dan berdampak luas.

Inisiator Gerakan: Visi Besar dari Sakinah Finance

Di balik terselenggaranya forum strategis ini, terdapat visi besar dari Founder & CEO Sakinah Finance, Prof. Dr. Murniati Mukhlisin, M.Acc. yang menggagas pertemuan ini sebagai ruang konsolidasi nasional antara akademisi dan praktisi.

Dalam penyampaiannya, Prof. Murniati menegaskan bahwa tantangan pendidikan tinggi hari ini tidak lagi bersifat sektoral, melainkan sistemik.

Kita tidak bisa membangun peradaban ekonomi syariah jika kampus berjalan sendiri dan industri bergerak sendiri. Forum ini adalah ikhtiar untuk menyatukan energi, menyelaraskan visi, dan mempercepat lahirnya SDM unggul yang siap menjawab kebutuhan umat.

Beliau juga menekankan bahwa Tri Dharma harus bergerak dari konsep menuju implementasi nyata.

Penelitian harus menyentuh persoalan riil. Pengabdian harus memperkuat tata kelola ekonomi masyarakat. Dan pendidikan harus membekali mahasiswa dengan kompetensi yang relevan dengan zaman.

Gagasan tersebut menjadi roh utama dari keseluruhan kegiatan—bahwa kolaborasi bukan sekadar kerja sama administratif, melainkan gerakan bersama membangun ekosistem ilmu yang berdampak.


Membangun Ekosistem Kolaboratif yang Terukur

Berbeda dari sekadar pertemuan seremonial, kegiatan ini dirancang sebagai ruang perumusan langkah taktis untuk menyinergikan pengajaran, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat dengan dinamika industri modern.

Diskusi panel, pemaparan pakar ekonomi syariah, serta sesi penyusunan program bersama menghasilkan kerangka kerja kolaboratif yang lebih terukur. Integrasi antara kampus, industri keuangan syariah, dan lembaga pendidikan dasar-menengah diharapkan mampu mempersempit kesenjangan antara teori dan praktik, sekaligus memperkuat literasi keuangan syariah di tengah masyarakat.

Workshop ini menegaskan bahwa Tri Dharma Perguruan Tinggi tidak boleh lagi berjalan secara parsial. Ia harus bertransformasi menjadi ekosistem inklusif yang menghadirkan solusi nyata bagi umat.


Pesan Rektor: Ilmu Harus Berdampak, Bukan Sekadar Diajarkan

Rektor UIN Sumatera Utara, Prof. Dr. Hj. Nurhayati, dalam pesan strategisnya menyampaikan bahwa momentum nasional seperti ini adalah bukti bahwa perguruan tinggi Islam siap menjadi pusat transformasi.

Beliau menegaskan:

Kita tidak ingin ilmu hanya berhenti di ruang kuliah dan jurnal akademik. Ilmu harus menjelma menjadi solusi. Kerja sama seperti ini adalah jembatan agar Tri Dharma benar-benar menyentuh kebutuhan masyarakat dan memperkuat ekonomi umat.

Rektor juga menekankan bahwa peningkatan kualitas SDM harus berbasis integrasi antara kompetensi profesional dan kekuatan moral-spiritual.

Keunggulan akademik tanpa integritas akan rapuh. Maka tugas kita adalah melahirkan generasi yang kompeten sekaligus berakhlak, profesional sekaligus berprinsip.


Dekan FEBI: Transformasi Kurikulum dan Riset Kolaboratif

Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam UIN Sumatera Utara, Prof. Dr. H. Muhammad Syukri Albani Nasution, M.A. menyampaikan bahwa forum ini menjadi titik akselerasi bagi penguatan kurikulum berbasis industri dan riset terapan yang solutif.

Beliau menyatakan:

Kita harus menyusun peta jalan pendidikan yang relevan dengan kebutuhan nyata. Kolaborasi dengan sektor industri dan lembaga pendidikan adalah keniscayaan agar lulusan kita tidak hanya siap kerja, tetapi siap menciptakan perubahan.

Menurutnya, penandatanganan kesepakatan bersama ini membuka peluang pengembangan program magang strategis, penelitian kolaboratif, sertifikasi profesional, serta pengabdian masyarakat berbasis penguatan ekonomi syariah daerah.


Suara Delegasi: Komitmen Akademik yang Konkret

Sebagai Ketua Prodi S2 Akuntansi Syariah, Dr. Nurlaila, S.E., M.A., CMA., CAPF., CIBA., CERA. menyampaikan bahwa forum ini memberikan perspektif baru tentang bagaimana riset akademik harus dirancang lebih responsif terhadap kebutuhan masyarakat.

Kami melihat peluang besar untuk mengembangkan riset kolaboratif yang langsung menyentuh tata kelola keuangan syariah di tingkat daerah. Ini bukan hanya tentang kerja sama di atas kertas, tetapi tentang implementasi nyata yang terukur.

Sementara itu, Dr. Maidalena, S.T., M.M. menegaskan pentingnya membangun kesinambungan antara pendidikan tinggi dan sekolah/madrasah dalam literasi keuangan syariah.

Edukasi keuangan tidak bisa dimulai ketika seseorang sudah dewasa. Ia harus ditanamkan sejak dini. Kolaborasi ini memungkinkan kita merancang program literasi yang sistematis dan berkelanjutan.

Keduanya sepakat bahwa hasil forum ini harus segera ditindaklanjuti dalam bentuk program konkret yang berdampak langsung pada penguatan ekonomi umat.


Menuju SDM Unggul Berbasis Nilai

Penandatanganan kesepakatan bersama ini menjadi simbol komitmen nasional dalam memperkuat kualitas sumber daya manusia Indonesia. Integrasi antara perguruan tinggi, industri, dan lembaga pendidikan dasar-menengah diharapkan mampu melahirkan generasi yang tidak hanya cakap secara teknis, tetapi juga kokoh secara nilai.

Kehadiran UIN Sumatera Utara melalui delegasi akademiknya menegaskan bahwa kampus ini siap berdiri di garda depan transformasi pendidikan tinggi Islam.

Dari sini, lahir komitmen.
Dari kolaborasi, tumbuh harapan.
Dari sinergi, terbangun masa depan.

UIN Sumatera Utara hadir bukan sekadar sebagai peserta, melainkan sebagai penggerak—membawa visi, integritas, dan kontribusi nyata bagi kemajuan pendidikan dan ekonomi syariah Indonesia.


Ditulis oleh:
Fachrul Riza, S.K.M., M.K.M.

FEBI UIN Sumatera Utara Gelar Konferensi Internasional: Dari Medan untuk Dunia, Menghadirkan Perspektif Ekonomi Syariah di Tengah Konflik Iran–AS–Israel

Medan, 14 Mei 2026 – Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) UIN Sumatera Utara kembali menegaskan eksistensinya sebagai pusat keilmuan global dengan menggelar konferensi internasional bertajuk:

“The Impact of the Iran–US–Israel Conflict on Investment and Global Economic Growth, Viewed from a Sharia Economic Perspective.”

Diselenggarakan pada 14–15 Mei 2026 di Aula FEBI Kampus IV UIN Sumatera Utara Tuntungan, konferensi ini bukan sekadar forum akademik biasa. Ia menjadi ruang refleksi global, ruang pertemuan gagasan lintas negara, dan panggung dialog peradaban tentang bagaimana konflik geopolitik memengaruhi investasi, stabilitas pasar, dan pertumbuhan ekonomi dunia — serta bagaimana ekonomi syariah menawarkan jalan keluarnya.

Di tengah ketegangan global yang berdampak pada pasar keuangan internasional, rantai pasok, hingga stabilitas investasi, FEBI UIN Sumatera Utara menghadirkan perspektif yang berbeda: bahwa ekonomi tidak boleh dilepaskan dari nilai, dan pertumbuhan tidak boleh berdiri tanpa keadilan.


Forum Global, Gagasan Global

Konferensi ini menghadirkan tokoh-tokoh internasional yang memiliki reputasi akademik dan pengalaman global.

Dari Qatar, Muhammad Mahmoud Al Jamal, Associate Professor di Universitas Hamad bin Khalifa, menyampaikan pandangan yang menggugah:

Ketika konflik terjadi, pasar bereaksi dengan ketakutan. Namun ekonomi syariah mengajarkan bahwa stabilitas tidak dibangun di atas spekulasi, melainkan pada aset riil dan keadilan distribusi. Dunia tidak membutuhkan lebih banyak ketakutan — dunia membutuhkan sistem yang beretika.

Dari Yordania, Prof. Dr. Abdel Nasser Abu Al Bassal, akademisi sekaligus tokoh waqf internasional, memberikan pernyataan yang mengubah cara pandang peserta:

Kita terlalu lama membangun ekonomi dengan logika kekuatan. Sudah saatnya membangun ekonomi dengan logika tanggung jawab. Dunia Islam memiliki mandat moral untuk menawarkan model ekonomi yang adil, bukan sekadar kompetitif.

Dari Palestina, Anas Zahira Al Misri, Ph.D., menekankan makna ketahanan dalam konteks konflik nyata:

Kami hidup di wilayah yang merasakan langsung dampak konflik. Yang kami pelajari adalah: ekonomi yang kuat bukan hanya soal pertumbuhan, tetapi tentang solidaritas sosial. Tanpa keadilan, pertumbuhan hanyalah angka tanpa makna.

Sementara itu, Ahed Ahmed Kamel Abu Al Ata, Presiden Foundation for Friendship and Studies of Civilizations, menyampaikan refleksi peradaban:

Konflik menguji kemanusiaan kita. Ilmu pengetahuan seharusnya menjadi jembatan, bukan alat legitimasi kekuasaan. Ketika ekonomi dibangun dengan nilai, ia mampu menyembuhkan luka-luka peradaban.

Dari Malaysia, Dr. Nur Farhah Binti Mahadi, Associate Professor IIUM Gombak Campus, menyampaikan perspektif strategis:

Investasi global hari ini sangat sensitif terhadap ketidakpastian geopolitik. Namun ekonomi syariah menawarkan stabilitas berbasis transparansi, risk sharing, dan etika. Inilah masa depan sistem keuangan global yang lebih berkelanjutan.


Pesan Visioner dari Dekan FEBI UIN Sumatera Utara

Dekan FEBI UIN Sumatera Utara, Prof. Dr. H. Muhammad Syukri Albani Nasution, M.A., menegaskan bahwa konferensi ini adalah bentuk tanggung jawab akademik dan moral.

Konflik geopolitik tidak hanya mengguncang batas negara, tetapi juga mengguncang fondasi ekonomi dunia. Jika ekonomi dibangun hanya untuk keuntungan, maka ia akan rapuh. Namun jika ia dibangun atas keadilan dan kemaslahatan, maka ia akan menjadi rahmat bagi seluruh umat manusia.

Beliau melanjutkan dengan pesan yang sangat reflektif:

FEBI UIN Sumatera Utara ingin menghadirkan ekonomi yang bukan sekadar cerdas, tetapi juga beradab. Dunia tidak kekurangan ahli keuangan. Dunia kekurangan keberanian moral dalam membuat kebijakan. Di sinilah ekonomi syariah menemukan relevansinya.

Pesan tersebut disambut antusias oleh peserta yang hadir, karena menggeser paradigma dari sekadar analisis konflik menuju solusi berbasis nilai.


Perspektif Strategis dari Ketua Magister Ekonomi Syariah

Ketua Program Magister Ekonomi Syariah UIN Sumatera Utara, Maryam Batubara, M.A., Ph.D., memberikan analisis mendalam yang membuka cakrawala baru.

Konflik Iran–AS–Israel menunjukkan betapa rentannya sistem ekonomi global terhadap ketidakpastian politik. Namun kita harus bertanya: apakah sistem ekonomi kita cukup berakar pada nilai sehingga mampu bertahan?

Beliau menekankan bahwa ekonomi syariah bukan sekadar alternatif, tetapi paradigma.

Ekonomi syariah berbicara tentang maqashid — tentang menjaga harta, menjaga kehidupan, menjaga martabat manusia. Jika kebijakan investasi global berlandaskan maqashid, maka pertumbuhan akan menjadi inklusif dan berkelanjutan, bukan eksploitatif.

Lebih jauh, ia mengajak generasi akademisi muda:

Inilah momentum bagi intelektual Muslim untuk tidak hanya menjadi pengamat global, tetapi perancang masa depan. Dari ruang-ruang akademik seperti ini, kita dapat melahirkan model kebijakan yang mengubah arah sejarah ekonomi dunia.


Delapan Isu Strategis yang Dibahas

Konferensi ini membedah delapan subtema penting, mulai dari investasi infrastruktur asing, proteksionisme perdagangan, kebebasan investasi sumber daya, keseimbangan perdagangan internasional, globalisasi ekonomi Islam, strategi manajemen pariwisata, sukuk internasional, hingga peran global negara-negara Muslim dalam membangun stabilitas ekonomi dunia.

Diskusi berlangsung dinamis, reflektif, dan penuh kedalaman intelektual. Para peserta tidak hanya mendengar, tetapi terlibat aktif dalam dialog lintas perspektif.


Dari Medan untuk Dunia

Dengan biaya yang inklusif dan fasilitas publikasi prosiding internasional, konferensi ini membuka ruang partisipasi luas bagi akademisi dan mahasiswa. Namun lebih dari itu, konferensi ini menjadi simbol.

Simbol bahwa dari Medan, gagasan besar dapat lahir untuk dunia.
Simbol bahwa ekonomi tidak boleh dilepaskan dari moralitas.
Simbol bahwa di tengah konflik, ilmu pengetahuan tetap menjadi jalan menuju perdamaian.

FEBI UIN Sumatera Utara menunjukkan bahwa perguruan tinggi bukan hanya pusat pendidikan, tetapi pusat perubahan peradaban.

Di tengah kompleksitas geopolitik global, suara berbasis nilai menjadi semakin penting. Dan melalui konferensi ini, UIN Sumatera Utara menegaskan: ekonomi syariah bukan hanya kajian akademik — ia adalah tawaran solusi untuk dunia yang lebih adil, stabil, dan bermartabat.

Saksikan Selengkapnya: Live Streaming on YouTube


Ditulis oleh:
Fachrul Riza, S.K.M., M.K.M.

Menguatkan Budaya Kerja Humanis dan Berkah: Dekan FEBI UIN Sumatera Utara Jadi Narasumber di BREATH Session 32 PT PELINDO Indonesia

Medan, 13 Mei 2026 – Kabar membanggakan kembali datang dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) UIN Sumatera Utara. Dekan FEBI UIN Sumatera Utara Medan, Prof. Dr. H. Muhammad Syukri Albani Nasution, M.A., diundang secara resmi sebagai narasumber dalam kegiatan BREATH Session Series 32 yang diselenggarakan oleh PT PELINDO Indonesia.

Kegiatan ini merupakan bagian dari program penguatan budaya kerja dan pengembangan sumber daya manusia di lingkungan PT PELINDO Indonesia, yang secara konsisten menghadirkan tokoh-tokoh inspiratif untuk menanamkan nilai etos kerja, integritas, serta membangun model kerja sama yang humanis, harmonis, dan penuh keberkahan.

Berdasarkan undangan resmi bernomor IND/BDKP/2/2026, kegiatan ini dilaksanakan dalam format BREATH Session Series 32. Forum ini menjadi ruang refleksi dan transformasi nilai bagi seluruh insan PELINDO.

Menguatkan Etos Kerja yang Humanis dan Berkah

Dalam sesi yang berlangsung penuh antusiasme tersebut, Prof. Syukri Albani menyampaikan materi yang tidak hanya menyentuh aspek profesionalisme kerja, tetapi juga membumikan nilai-nilai spiritualitas dalam dunia korporasi.

Beliau menegaskan bahwa kerja bukan sekadar aktivitas ekonomi, tetapi bagian dari ibadah dan pengabdian.

Etos kerja yang kuat bukan hanya lahir dari target dan tekanan, tetapi dari kesadaran makna. Ketika seseorang bekerja dengan niat yang lurus, profesionalitas yang tinggi, dan akhlak yang mulia, maka di situlah keberkahan hadir. Perusahaan akan tumbuh bukan hanya secara angka, tetapi juga secara nilai.

Dalam penyampaiannya yang khas—tegas, hangat, dan membumi—Prof. Syukri mengajak seluruh peserta untuk menjadikan tempat kerja sebagai ruang kolaborasi yang saling menguatkan.

Model kerja sama yang humanis dan harmonis bukan retorika. Ia harus dibangun dengan empati, komunikasi yang sehat, dan kepemimpinan yang adil. Karena perusahaan besar tidak hanya ditopang oleh sistem, tetapi oleh hati yang saling percaya.

Sinergi Kampus dan Industri: Ilmu Bertemu Praktik

Kehadiran Dekan FEBI UIN Sumatera Utara dalam forum nasional ini menjadi bukti bahwa kontribusi akademisi tidak berhenti di ruang kelas atau jurnal ilmiah. Ilmu harus hadir menjawab kebutuhan nyata dunia industri.

BREATH Session sendiri dirancang sebagai sarana peningkatan kualitas insan perusahaan melalui pendekatan reflektif dan inspiratif. Dalam konteks inilah, nilai-nilai ekonomi syariah dan kepemimpinan berbasis moral yang dibawa oleh Prof. Syukri menjadi sangat relevan.

Forum ini tidak hanya menjadi sesi berbagi ilmu, tetapi juga momentum membangun kesadaran kolektif bahwa profesionalisme dan spiritualitas bukan dua kutub yang berlawanan, melainkan dua kekuatan yang saling melengkapi.

Kebanggaan bagi FEBI dan UIN Sumatera Utara

Partisipasi Prof. Dr. H. Muhammad Syukri Albani Nasution, M.A. sebagai narasumber dalam BREATH Session 32 PT PELINDO Indonesia menjadi kebanggaan tersendiri bagi keluarga besar FEBI dan UIN Sumatera Utara.

Ini menunjukkan bahwa kepakaran dan kepemimpinan akademik yang tumbuh di lingkungan UIN Sumatera Utara mendapat pengakuan dan kepercayaan di tingkat nasional, bahkan dalam forum strategis korporasi BUMN.

Lebih dari sekadar undangan menjadi pembicara, kegiatan ini adalah simbol sinergi antara dunia pendidikan tinggi dan dunia industri—antara ilmu dan praktik, antara nilai dan kinerja.

Dari ruang kampus di Medan, pesan tentang etos kerja, harmoni, dan keberkahan kini menggema hingga ruang-ruang strategis korporasi nasional. Sebuah langkah kecil yang berdampak besar. Sebuah kontribusi nyata bagi peradaban kerja yang lebih bermakna.

Ditulis oleh:
Fachrul Riza, S.K.M., M.K.M.

Cetak Mahasiswa Unggul di Era Digital: FEBI UIN Sumatera Utara Kolaborasi dengan KAMI Gelar Sertifikasi Digital Marketing

Medan, 5 Mei 2026 — Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) UIN Sumatera Utara kembali menunjukkan komitmennya dalam mencetak generasi muda yang unggul, adaptif, dan siap menghadapi tantangan zaman melalui pelaksanaan Pelatihan dan Sertifikasi Digital Marketing bekerja sama dengan Kompeten Akademi Muda Indonesia.

Kegiatan yang berlangsung di Aula FEBI UIN Sumatera Utara ini menjadi momentum penting dalam memperkuat kompetensi mahasiswa di tengah derasnya transformasi digital yang terus mengubah wajah dunia kerja, bisnis, dan industri kreatif.

Sebanyak 41 peserta mengikuti kegiatan ini, terdiri dari 36 mahasiswa FEBI UIN Sumatera Utara dan 5 peserta dari Universitas Alwashliyah Medan. Kehadiran peserta lintas perguruan tinggi tersebut mencerminkan semangat generasi muda untuk terus meningkatkan kualitas diri agar mampu bersaing secara profesional di era ekonomi digital.

Dalam arahannya, Dekan FEBI UIN Sumatera Utara, Prof. Dr. H. Muhammad Syukri Albani Nasution, M.A., menegaskan bahwa penguasaan teknologi dan kemampuan digital harus dibangun di atas fondasi moral, etika, dan nilai-nilai kebermanfaatan.

“Digitalisasi adalah keniscayaan zaman. Namun yang lebih penting adalah bagaimana teknologi digunakan untuk menghadirkan maslahat bagi masyarakat. Mahasiswa FEBI harus menjadi generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual dan digital, tetapi juga kuat secara spiritual serta mampu menjaga integritas dalam setiap langkahnya. Ketika ilmu dipadukan dengan akhlak dan kreativitas, maka akan lahir generasi yang mampu membawa perubahan besar bagi bangsa dan peradaban,” ungkap beliau.

Sementara itu, Wakil Dekan I FEBI UIN Sumatera Utara, Dr. Isnaini Harahap, M.Ag., menyampaikan bahwa mahasiswa harus memiliki kesiapan akademik sekaligus kemampuan praktis yang relevan dengan perkembangan global.

“Dunia saat ini bergerak sangat cepat. Mahasiswa tidak cukup hanya memahami teori di ruang kuliah, tetapi juga harus mampu menguasai keterampilan yang aplikatif dan dibutuhkan industri. Pelatihan seperti ini menjadi ruang penting untuk membangun daya saing, memperluas wawasan, dan melahirkan generasi yang siap menghadapi tantangan masa depan dengan percaya diri,” tuturnya.

Pada kesempatan yang sama, Wakil Dekan II FEBI UIN Sumatera Utara, Dr. Fauzi Arif Lubis, M.A., menegaskan bahwa kemampuan digital marketing kini menjadi salah satu kompetensi utama yang harus dimiliki mahasiswa, baik untuk memasuki dunia kerja maupun membangun usaha mandiri.

“Mahasiswa hari ini harus mampu membaca arah perubahan zaman. Digital marketing bukan lagi sekadar keterampilan tambahan, tetapi telah menjadi kebutuhan utama dalam dunia profesional dan kewirausahaan. Sertifikasi kompetensi seperti ini juga menjadi nilai tambah penting dalam Surat Keterangan Pendamping Ijazah (SKPI), sehingga mahasiswa memiliki keunggulan yang lebih kompetitif,” jelasnya.

Inspirasi dan motivasi yang mendalam juga disampaikan oleh Wakil Dekan III FEBI UIN Sumatera Utara, Dr. Marliyah, M.Ag., yang mengajak mahasiswa untuk menjadi generasi muda yang aktif menciptakan peluang dan kebermanfaatan.

“Anak muda jangan hanya menjadi penonton perkembangan digital, tetapi harus menjadi pelaku perubahan. Dunia membutuhkan generasi yang kreatif, inovatif, dan memiliki keberanian untuk berkarya. Ilmu yang dipelajari hari ini akan menjadi cahaya masa depan ketika dijalankan dengan kesungguhan, disiplin, dan niat yang baik. Jadilah generasi yang mampu memberi manfaat, bukan hanya untuk diri sendiri, tetapi juga bagi masyarakat luas,” ungkap beliau penuh semangat.

Sementara itu, Direktur Kompeten Akademi Muda Indonesia, Dr. (C). Ivan Suaidi, S.Sos., M.M., menjelaskan bahwa pelatihan ini dirancang berbasis praktik agar peserta tidak hanya memahami teori, tetapi juga mampu mengimplementasikan ilmu secara langsung di dunia nyata.

“Kami ingin mahasiswa memiliki pengalaman nyata dalam memahami strategi pemasaran digital modern. Dunia industri membutuhkan SDM yang adaptif, kreatif, dan memiliki kemampuan praktis yang siap diterapkan,” ujarnya.

Pelatihan menghadirkan praktisi digital marketing, Andrie Andropia, yang membagikan pengalaman dan strategi pemasaran digital modern, mulai dari riset pasar, pengelolaan media sosial, pembuatan konten kreatif, hingga optimalisasi iklan berbayar secara efektif dan tepat sasaran.

Sepanjang kegiatan berlangsung, suasana pelatihan tampak hidup dan penuh antusiasme. Para peserta aktif berdiskusi, bertanya, serta mengikuti berbagai simulasi praktik yang diberikan. Semangat belajar yang tinggi menjadi gambaran bahwa mahasiswa FEBI UIN Sumatera Utara memiliki tekad kuat untuk terus berkembang dan menyesuaikan diri dengan kebutuhan zaman.

Kegiatan ini menjadi bukti nyata bahwa FEBI UIN Sumatera Utara terus bergerak maju sebagai fakultas yang tidak hanya unggul dalam penguatan akademik, tetapi juga serius membangun sumber daya manusia yang profesional, kompetitif, dan relevan dengan perkembangan global.

Lebih dari sekadar pelatihan, kegiatan ini menghadirkan harapan besar bahwa mahasiswa FEBI UIN Sumatera Utara akan mampu menjadi generasi yang bukan hanya siap bekerja, tetapi juga siap menciptakan peluang, membangun inovasi, serta menghadirkan kontribusi nyata dalam perkembangan ekonomi digital Indonesia.

Ditulis oleh:
Fachrul Riza, S.K.M., M.K.M.

Prodi S1 Manajemen FEBI Jadi Primadona SNBP 2026 di Lingkungan UIN Sumatera Utara, Masuk Dua Besar Paling Diminati!

Prodi S1 Manajemen FEBI Masuk Top 2 Prodi Terfavorit Pilihan SNBP 2026 di Lingkungan UIN Sumatera Utara!

Kabar membanggakan kembali datang dari Universitas Islam Negeri Sumatera Utara. Program Studi S1 Manajemen pada Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam UIN Sumatera Utara berhasil menempati posisi Top 2 Program Studi Terfavorit pada Jalur SNBP Tahun 2026 khusus bagi pendaftar yang memilih UIN Sumatera Utara.

Capaian ini menunjukkan bahwa di antara seluruh program studi yang tersedia di UIN Sumatera Utara, Prodi S1 Manajemen menjadi salah satu pilihan paling diminati calon mahasiswa. Tingginya animo tersebut menjadi indikator kuat atas meningkatnya kepercayaan publik terhadap kualitas akademik, prospek lulusan, serta reputasi FEBI dalam mencetak generasi profesional di bidang manajemen berbasis nilai-nilai keislaman.

Data dari Tim Bagian Akademik dan Kemahasiswaan UIN Sumatera Utara Medan memperlihatkan bahwa Prodi Manajemen konsisten menjadi magnet bagi calon mahasiswa. Hal ini tidak terlepas dari penguatan kurikulum adaptif, integrasi keilmuan manajemen modern dengan ekonomi syariah, serta dukungan dosen-dosen kompeten yang aktif dalam riset, pengabdian, dan kolaborasi industri.

Rektor UIN Sumatera Utara, Prof. Dr. Hj. Nurhayati, M.Ag., menyampaikan bahwa tingginya minat terhadap Prodi Manajemen merupakan cerminan transformasi akademik yang terus dilakukan universitas.

Kepercayaan para calon mahasiswa yang memilih UIN Sumatera Utara adalah amanah besar. Ketika Prodi Manajemen menjadi salah satu yang paling diminati, itu menandakan bahwa masyarakat melihat keseriusan kita dalam membangun kualitas. Tugas kita adalah menjawab kepercayaan itu dengan layanan pendidikan terbaik dan berorientasi masa depan,” ujarnya.

Senada dengan itu, Dekan FEBI UIN Sumatera Utara, Prof. Dr. H. Muhammad Syukri Albani Nasution, M.A. menegaskan bahwa posisi Top 2 ini bukan sekadar capaian statistik, melainkan refleksi arah dan visi keilmuan yang jelas.

Prodi Manajemen FEBI hadir bukan hanya untuk menghasilkan lulusan, tetapi untuk membentuk pemimpin dan entrepreneur berintegritas. Tingginya minat ini adalah bukti bahwa generasi muda melihat manajemen berbasis nilai sebagai kebutuhan zaman. Ini menjadi motivasi bagi kami untuk terus berinovasi dan memperkuat kualitas,” tegasnya.

Prestasi ini menjadi energi baru bagi FEBI UIN Sumatera Utara untuk terus memperluas jejaring kerja sama, memperkuat kurikulum berbasis industri, serta menghadirkan pembelajaran yang relevan dengan dinamika ekonomi global.

Top 2 Prodi Terfavorit di lingkungan UIN Sumatera Utara pada jalur SNBP 2026 bukan hanya tentang angka peminat—tetapi tentang harapan besar generasi muda yang menitipkan masa depan mereka pada Prodi Manajemen FEBI. Sebuah amanah yang akan dijaga dengan komitmen, kualitas, dan integritas.

Mengejar Utopia di UIN Sumatera Utara: Menyemai Kompetensi, Meneguhkan Nilai

Mengejar Utopia di UIN Sumatera Utara
Oleh Imam El Islamy dan Malkan Yahya Abdillah

Tidak hanya berorientasi pada penguasaan materi, pendidikan juga menekankan pada pembentukan cara berpikir dan sikap. Dalam konteks pendidikan tinggi yang semakin kompetitif, pendekatan semacam ini menghadirkan diferensiasi tersendiri. Ketika banyak institusi menitikberatkan pada aspek teknis dan profesional, UIN Sumatera Utara menempatkan keseimbangan antara kompetensi dan nilai sebagai bagian integral dari proses belajar. Lulusan tidak hanya membawa pengetahuan sesuai bidangnya, tetapi juga memiliki landasan etika serta pemahaman keagamaan yang menyertainya.

Di sisi lain, perkembangan fasilitas turut memperlihatkan arah transformasi kampus. Kehadiran Kampus IV Tuntungan menjadi salah satu wujud perubahan tersebut. Dengan kawasan yang luas, bangunan modern, serta lingkungan yang relatif asri, kampus ini menghadirkan ruang belajar yang lebih nyaman dan kondusif.

Modernisasi ini berjalan beriringan dengan karakter dasar UIN Sumatera Utara sebagai perguruan tinggi keagamaan. Perpaduan antara fasilitas yang terus berkembang dan nilai yang tetap dipertahankan menjadi ciri khas yang tidak selalu ditemukan di setiap institusi pendidikan tinggi.

Selain aktivitas akademik, sistem pembelajaran di UIN Sumatera Utara juga membuka ruang bagi mahasiswa untuk terlibat dalam berbagai kegiatan di luar kelas. Program pengabdian kepada masyarakat, organisasi kemahasiswaan, hingga kegiatan akademik lainnya menjadi bagian dari proses pembentukan pengalaman belajar yang lebih luas.

Melalui kegiatan tersebut, mahasiswa tidak hanya berhadapan dengan teori, tetapi juga dengan realitas sosial yang menuntut kemampuan adaptasi, komunikasi, serta pemahaman yang lebih kontekstual. Hal ini memperkuat posisi pendidikan sebagai proses yang tidak berhenti pada ruang kelas semata.

Dalam jangka panjang, nilai sebuah pendidikan sering kali tidak hanya diukur dari hasil yang terlihat secara langsung. Ada aspek-aspek yang berkembang secara bertahap, seperti cara berpikir yang matang, kedewasaan dalam mengambil keputusan, hingga kemampuan menempatkan diri dalam berbagai situasi.

Di sinilah pendekatan yang diterapkan di UIN Sumatera Utara menemukan relevansinya. Integrasi antara ilmu dan nilai membentuk proses pendidikan yang tidak hanya berorientasi pada capaian akademik, tetapi juga pada pembentukan diri secara menyeluruh.

Apa yang kemudian dianggap sebagai keberuntungan tidak selalu hadir dalam bentuk yang instan. Dalam konteks ini, keberuntungan dapat dipahami sebagai hasil dari proses yang berjalan secara konsisten melalui lingkungan belajar, sistem pendidikan, dan nilai yang menyertainya.

UIN Sumatera Utara, dengan pendekatan tersebut, menawarkan pengalaman pendidikan yang tidak hanya berfokus pada apa yang dipelajari, tetapi juga pada bagaimana ilmu itu dijalani dan dimaknai.

Dekan FEBI UIN Sumatera Utara Tampil di TV Nasional: Prof. Syukri Albani Hadirkan Dakwah Teduh Khas Medan di Program Damai Indonesiaku tvOne!

Medan, 25 Januari 2026 — Kebanggaan besar kembali dirasakan oleh keluarga besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) UIN Sumatera Utara. Prof. Dr. H. Muhammad Syukri Albani Nasution, M.A., Dekan FEBI, dipercaya berulang kali hadir sebagai penceramah dalam program dakwah nasional Damai Indonesiaku yang disiarkan TVOne. Tidak hanya sekali, tetapi dalam berbagai episode dengan tema berbeda—menandakan kuatnya kepercayaan publik terhadap kapasitas keilmuan dan kedalaman spiritual beliau.

Pada tema “Kiat Islam Melawan Malas,” Prof. Syukri mengajak umat untuk memahami bahwa kemalasan bukan sekadar persoalan kebiasaan, melainkan tantangan iman yang harus dilawan dengan disiplin, doa, dan kesungguhan. Dengan gaya khasnya yang lugas dan membumi, beliau menegaskan bahwa seorang Muslim harus produktif dan memberi manfaat, sebab keberkahan sering hadir melalui kesungguhan usaha. Saksikan selengkapnya di YouTube Damai Indonesiaku: Kiat Islam Melawan Malas

Berlanjut pada tema “Adab Rukun Bertetangga,” beliau menekankan pentingnya menjaga harmoni sosial. Dalam ceramahnya, Prof. Syukri mengingatkan bahwa kekuatan umat tidak hanya dibangun di masjid, tetapi juga melalui kepedulian terhadap lingkungan sekitar. Senyum, sapa, dan saling membantu, hal-hal sederhana adalah wujud nyata dari akhlak Islam yang sering kali terlupakan. Saksikan selengkapnya di YouTube Damai Indonesiaku: Adab Rukun Bertetangga

Sementara itu, pada kajian “Riya Penyakit Hati, Harus Kita Hindari,” beliau mengajak jamaah untuk menata niat dan memperhalus keikhlasan. Menurutnya, amal yang besar dapat kehilangan makna ketika dikerjakan demi pujian manusia. Pesan yang disampaikan terasa mendalam: keikhlasan adalah rahasia kekuatan seorang hamba, dan hanya hati yang bersih yang mampu menghadirkan ketenangan sejati. Saksikan selengkapnya di YouTube Damai Indonesiaku: Riya Penyakit Hati, Harus Kita Hindari

Tidak kalah menyentuh, dalam tema “Banyak Berzikir agar Pahala Mengalir,” Prof. Syukri menghadirkan tausiyah yang meneduhkan. Ia mengajak masyarakat untuk kembali menghidupkan zikir di tengah hiruk-pikuk dunia modern. Dengan logat Medan yang hangat dan bersahabat, beliau menyampaikan bahwa zikir bukan sekadar lantunan, tetapi jalan pulang bagi hati yang lelah. Saksikan selengkapnya di YouTube Damai Indonesiaku: Banyak Berzikir agar Pahala Mengalir

Pada episode spesial Ramadan 1447 H bertajuk “Ramadan Hampir Habis, Seharusnya Kita Menangis”, Prof. Syukri kembali tampil dalam program Damai Indonesiaku yang disiarkan langsung dari Masjid Al Furqon, Kota Baru, Bekasi, pada Jumat, 20 Maret 2026. Saksikan selengkapnya di YouTube Damai Indonesiaku: Ramadan Hampir Habis, Seharusnya Kita Menangis

Dalam kajian tersebut, beliau mengajak umat melakukan muhasabah mendalam di penghujung Ramadan. Bukan sekadar merayakan kemenangan, tetapi merenungi sejauh mana bulan suci telah mengubah hati, memperbaiki akhlak, dan mendekatkan diri kepada Allah SWT. Ramadan, menurutnya, bukan hanya tentang menahan lapar dan dahaga, melainkan tentang melatih jiwa agar lebih peka, lebih lembut, dan lebih bertakwa.

Dengan pendekatan reflektif dan penuh keteduhan, beliau mengingatkan bahwa air mata di akhir Ramadan bukan tanda kelemahan, melainkan pertanda cinta kepada ibadah dan kerinduan terhadap keberkahan yang mungkin belum tentu dapat ditemui kembali di tahun berikutnya. Pesan ini menggugah pemirsa untuk tidak menyia-nyiakan detik-detik terakhir bulan suci.

Kelima tema tersebut memperlihatkan keluasan perspektif dakwah Prof. Syukri, mulai dari pembinaan pribadi, hubungan sosial, hingga kesehatan spiritual. Gaya penyampaiannya yang khas, tegas namun penuh kehangatan, menjadikan pesan-pesan yang berat terasa ringan dan mudah diterima oleh pemirsa dari berbagai latar belakang.

Rektor UIN Sumatera Utara, Prof. Dr. Hj. Nurhayati, M.Ag., menyampaikan apresiasi atas capaian ini. Menurutnya, kehadiran Prof. Syukri di panggung nasional adalah cerminan kualitas akademisi UIN Sumatera Utara yang mampu berkontribusi nyata bagi masyarakat. “Kami bangga, karena dari kampus ini lahir sosok yang tidak hanya unggul dalam keilmuan, tetapi juga mampu menebarkan kesejukan bagi Indonesia,” ungkapnya.

Bagi FEBI, momentum ini bukan hanya prestasi personal, melainkan kebanggaan institusional. Ini adalah bukti bahwa peran akademisi melampaui ruang kelas, menjangkau mimbar umat, menguatkan nilai-nilai moral, dan menghadirkan Islam sebagai rahmat bagi semesta.

Kehadiran Prof. Syukri Albani di layar TV nasional seakan menjadi pesan kuat bagi seluruh sivitas akademika: bermimpilah besar, berkontribusilah luas, dan jadilah cahaya di mana pun berada. Dari Medan untuk Indonesia, dakwah yang teduh kini bergema lebih jauh—menginspirasi, menenangkan, dan membanggakan.

Ditulis oleh: Fachrul Riza, S.K.M., M.K.M.

Dedikasi, Integritas, dan Kepemimpinan dalam Bingkai Keilmuan: Jejak Inspiratif Prof. Dr. H. Muhammad Syukri Albani Nasution, M.A. Menjadi Guru Besar di Usia 39 Tahun

Medan, 19 Maret 2026 – Sebuah potret inspiratif tentang perjalanan akademik kembali mengemuka dari lingkungan UIN Sumatera Utara. Sosok Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI), Prof. Dr. H. M. Syukri Albani Nasution, M.A., tampil sebagai representasi nyata dari integrasi antara ketekunan intelektual, kedalaman spiritual, dan kepemimpinan yang berlandaskan nilai.

Perjalanan akademik yang ditampilkan dalam video yang diunggah oleh Kanal YouTube Tribunnews (klik disini) menggambarkan proses panjang yang dilalui dengan konsistensi dan komitmen tinggi terhadap dunia pendidikan. Tidak hanya menunjukkan capaian personal, tetapi juga mencerminkan bagaimana sebuah proses yang dijalani secara sungguh-sungguh mampu melahirkan kontribusi nyata bagi institusi dan masyarakat luas.

Melalui perjalanan hidup yang tergambar, terlihat dengan jelas bahwa keberhasilan bukanlah sesuatu yang hadir secara instan. Ia merupakan akumulasi dari proses panjang yang dijalani dengan kesungguhan, konsistensi, dan pengorbanan. Berangkat dari latar belakang pendidikan pesantren, Prof. Syukri Albani menapaki setiap fase kehidupan dengan istiqamah, menjadikan setiap tantangan sebagai ruang pembelajaran, dan setiap kesempatan sebagai pijakan untuk terus bertumbuh.


Perjalanan Ilmu yang Penuh Keteguhan

Kisah ini menegaskan bahwa pendidikan pesantren bukanlah batas dalam meraih pencapaian akademik tertinggi, melainkan fondasi yang kokoh dalam membentuk karakter intelektual dan spiritual. Nilai-nilai kedisiplinan, keikhlasan, kesederhanaan, serta adab yang tertanam sejak awal, menjadi energi utama dalam perjalanan panjang tersebut.

Dengan fondasi tersebut, perjalanan akademik Prof. Syukri Albani berkembang secara progresif hingga mencapai titik penting sebagai Guru Besar di usia yang relatif muda, yakni 39 tahun. Capaian ini tidak hanya mencerminkan kapasitas keilmuan yang tinggi, tetapi juga menunjukkan bahwa ketekunan yang terarah mampu mempercepat pencapaian tanpa mengurangi kualitas.

Lebih dari sekadar pencapaian personal, perjalanan ini menjadi simbol kuat bahwa integrasi antara ilmu agama dan ilmu modern mampu melahirkan sosok akademisi yang utuh—memiliki kecerdasan intelektual sekaligus kedalaman spiritual, serta mampu menjawab tantangan zaman dengan nilai.


Makna Kepemimpinan yang Berangkat dari Nilai

Dalam perjalanan tersebut, kepemimpinan tidak hadir sebagai tujuan, melainkan sebagai konsekuensi dari proses panjang yang dijalani dengan integritas. Kepemimpinan yang ditampilkan oleh Prof. Syukri Albani berakar dari nilai-nilai keikhlasan, tanggung jawab moral, dan kesadaran akan amanah.

Ia memaknai ilmu bukan sekadar sebagai instrumen pencapaian, tetapi sebagai tanggung jawab yang harus memberikan manfaat luas. Kepemimpinan pun diposisikan sebagai ruang pengabdian, bukan sekadar posisi struktural.

Pendekatan ini kemudian menjadi karakter khas dalam kepemimpinannya di FEBI UIN Sumatera Utara—menghadirkan keseimbangan antara ketegasan akademik dan kelembutan nurani, antara capaian institusional dan pembangunan karakter, serta menjadikan kampus sebagai pusat lahirnya peradaban yang berlandaskan nilai.


Inspirasi untuk Generasi Muda

Kisah ini menyampaikan pesan yang sangat kuat bagi generasi muda bahwa setiap individu memiliki peluang yang sama untuk mencapai puncak prestasi. Latar belakang bukanlah penghalang, melainkan bagian dari proses pembentukan diri.

Yang menjadi pembeda adalah keteguhan dalam menjaga arah, konsistensi dalam proses, serta keberanian untuk terus belajar dan berkembang. Dalam dunia yang terus berubah, kemampuan untuk bertahan dan beradaptasi menjadi kunci utama dalam meraih keberhasilan yang berkelanjutan.

Jangan pernah merasa kecil dengan latar belakang kita. Justru dari situlah kekuatan kita dibentuk. Ilmu itu bukan hanya tentang kecerdasan, tetapi tentang kesungguhan dan keberkahan,
— Prof. Dr. H. M. Syukri Albani Nasution, M.A.


Pesan Inspiratif Rektor UIN Sumatera Utara

Rektor UIN Sumatera Utara, Prof. Dr. Hj. Nurhayati, M.Ag., turut memberikan refleksi yang memperkuat makna dari perjalanan tersebut.

Perjalanan Prof. Syukri Albani adalah gambaran nyata bahwa kualitas tidak dibangun dalam waktu singkat. Ia lahir dari kesungguhan, keikhlasan, dan komitmen yang dijaga secara konsisten. Ini menjadi inspirasi bagi seluruh civitas akademika untuk terus melangkah, mengembangkan diri, dan memberikan kontribusi terbaik bagi umat dan bangsa.


Penutup: Inspirasi yang Melampaui Prestasi

Kisah Prof. Syukri Albani bukan sekadar tentang gelar akademik atau posisi kepemimpinan, melainkan tentang proses pembentukan diri yang utuh. Ia adalah refleksi dari bagaimana ilmu, iman, dan kerja keras dapat bertemu dalam satu titik keberhasilan yang bermakna.

Lebih jauh, kisah ini menjadi pengingat bahwa setiap langkah kecil dalam menuntut ilmu, ketika dijalani dengan niat yang lurus dan usaha yang sungguh-sungguh, akan membentuk perjalanan besar di masa depan.

Sebuah kisah yang tidak hanya layak untuk dibaca, tetapi juga untuk direnungkan—bahwa dari kesederhanaan lahir keteguhan, dari proses lahir pencapaian, dan dari keikhlasan lahir keberkahan yang melampaui batas-batas prestasi itu sendiri.


Penulis: Fachrul Riza, S.K.M., M.K.M.

Memupuk Nikmat Persatuan Berbangsa: Ikhtiar Merawat Harmoni dalam Keberagaman

Memupuk Nikmat Persatuan Berbangsa
Oleh Prof. Dr. H. Muhammad Syukri Albani Nasution, M.A. – Dekan FEBI UIN Sumatera Utara

Di antara sekian banyak nikmat yang Allah subhanahu wa ta’ala anugerahkan kepada manusia, terdapat beberapa nikmat yang sangat agung dan sering kali luput dari kesadaran kita. Salah satu nikmat terbesar tersebut adalah nikmat hidayah Islam. Melalui hidayah inilah hati manusia diteguhkan untuk mengikuti ajaran Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, meniti jalan yang benar, serta hidup dalam naungan nilai-nilai keimanan.

Selain itu, Allah subhanahu wa ta’ala juga menganugerahkan nikmat berupa persatuan dan kebersamaan di antara sesama umat manusia, khususnya umat Islam. Dengan persatuan itulah kita dapat hidup berdampingan, saling menjaga, dan saling menguatkan dalam menghadapi berbagai dinamika kehidupan. Dalam kehidupan berbangsa dan bermasyarakat, persatuan menjadi fondasi penting bagi terciptanya ketenteraman, rasa aman, serta keharmonisan sosial.

Kita patut bersyukur karena hingga hari ini Allah subhanahu wa ta’ala masih menganugerahkan kepada kita kehidupan yang relatif damai dalam bingkai kebangsaan. Kita dapat berinteraksi dengan baik di tengah masyarakat, bekerja di lingkungan yang kondusif, serta membangun keluarga dalam suasana yang tenteram. Bahkan bagi mereka yang tengah menghadapi berbagai persoalan hidup, masih diberikan kesempatan untuk berkumpul bersama saudara-saudara seiman, menunaikan ibadah, dan memperkuat ukhuwah di masjid yang mulia ini.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman dalam QS. Ali ‘Imran ayat 103:

وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا ۚ وَاذْكُرُوا نِعْمَتَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنتُمْ أَعْدَاءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُم بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا ۚ وَكُنتُمْ عَلَىٰ شَفَا حُفْرَةٍ مِّنَ النَّارِ فَأَنقَذَكُم مِّنْهَا ۗ كَذَٰلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمْ آيَاتِهِ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ

Berpegang teguhlah kamu semuanya pada tali (agama) Allah dan janganlah kamu bercerai-berai. Ingatlah nikmat Allah kepadamu ketika dahulu kamu bermusuhan, lalu Allah mempersatukan hatimu sehingga dengan karunia-Nya kamu menjadi bersaudara. Dan ketika itu kamu berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu darinya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu agar kamu mendapat petunjuk.
(QS. Ali ‘Imran: 103)

Ayat ini mengingatkan kita bahwa persatuan adalah nikmat yang sangat besar. Ia bukan sekadar kondisi sosial, melainkan karunia langsung dari Allah subhanahu wa ta’ala yang menyatukan hati-hati manusia. Karena itu, menjaga persatuan bukan hanya tanggung jawab sosial, tetapi juga bentuk rasa syukur atas nikmat yang telah Allah subhanahu wa ta’ala berikan.

Ayat ini menegaskan betapa pentingnya menjaga persatuan. Allah subhanahu wa ta’ala secara tegas memerintahkan umat Islam agar berpegang teguh pada tali agama-Nya dan tidak terpecah belah. Persatuan bukan sekadar pilihan, melainkan perintah langsung dari Allah subhanahu wa ta’ala yang harus dijaga dan dirawat sepanjang waktu.

Jika ayat tersebut kita kontekstualisasikan dengan kehidupan masyarakat saat ini, pesan yang terkandung di dalamnya menjadi sangat relevan. Umat Islam diperintahkan untuk tetap menjaga kebersamaan dan tidak mudah terpecah oleh perbedaan pandangan maupun kepentingan. Persatuan harus dipelihara dengan penuh kesadaran bahwa ukhuwah adalah kekuatan besar yang dimiliki oleh umat.

Di tengah berbagai ujian kehidupan modern—mulai dari persoalan kemiskinan, kesenjangan sosial, hingga tantangan di bidang pendidikan dan keadilan—persatuan menjadi semakin penting. Tidak jarang pula muncul upaya dari segelintir pihak yang mencoba memecah belah umat melalui berbagai cara, seperti provokasi, adu domba, maupun penyebaran kebencian.

Dalam menghadapi situasi seperti ini, umat Islam dituntut untuk memiliki kedewasaan sikap. Kita tidak perlu mudah terpancing oleh berbagai provokasi yang dapat merusak ukhuwah. Prinsip yang harus kita pegang adalah berlapang dada terhadap perbedaan serta bersatu dalam hal-hal yang telah menjadi kesepakatan bersama.

Sebagai bentuk ikhtiar dalam menjaga ukhuwah dan memperkuat persatuan, Buya Yunahar Ilyas dalam bukunya Kuliah Akhlak menjelaskan empat pilar penting yang dapat menjadi fondasi dalam membangun persaudaraan.

Pilar pertama adalah ta’aruf, yaitu upaya untuk saling mengenal satu sama lain. Ta’aruf tidak hanya sebatas mengenal nama atau identitas lahiriah seseorang, tetapi juga memahami latar belakang kehidupannya, pengalaman pendidikan, serta kondisi sosial dan keagamaannya. Dengan saling mengenal secara lebih mendalam, kita akan lebih mudah membangun rasa saling menghargai dan menghormati.

Pilar kedua adalah tafahum, yakni saling memahami. Dalam kehidupan bermasyarakat, setiap individu memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Dengan adanya sikap saling memahami, berbagai kesalahpahaman dapat diminimalisasi sehingga konflik yang tidak perlu dapat dihindari.

Pilar ketiga adalah ta’awun, yaitu semangat saling tolong-menolong. Islam sangat menekankan pentingnya solidaritas sosial. Yang kuat hendaknya membantu yang lemah, yang memiliki kelebihan membantu yang kekurangan, yang sehat membantu yang sakit, dan yang mampu membantu yang membutuhkan. Dengan semangat tolong-menolong ini, rahmat Allah subhanahu wa ta’ala akan senantiasa turun kepada masyarakat.

Adapun pilar keempat adalah takaful, yakni saling memberikan jaminan dan perlindungan. Takaful menciptakan rasa aman di tengah masyarakat, karena setiap individu merasa bahwa dirinya tidak sendirian dalam menghadapi persoalan hidup. Ada saudara yang siap membantu, memberikan dukungan, serta mencarikan jalan keluar atas berbagai kesulitan yang dihadapi.

Keempat pilar tersebut menjadi fondasi penting dalam membangun ukhuwah yang kokoh. Dengan ta’aruf, tafahum, ta’awun, dan takaful, persaudaraan tidak hanya menjadi slogan, tetapi benar-benar hadir dalam kehidupan nyata masyarakat. Persatuan umat Islam pun dapat terjaga dengan baik, sekaligus menjadi kekuatan besar dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Pada akhirnya, kita semua harus menyadari bahwa sebagai manusia biasa, kita tidak luput dari kesalahan dan kekhilafan. Tidak ada manusia yang sempurna, karena kesempurnaan hanya dimiliki oleh para Nabi yang dijaga dari dosa. Kesadaran inilah yang seharusnya mendorong kita untuk terus memperkuat persaudaraan dan memperbaiki diri.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga memberikan tuntunan yang sangat jelas tentang pentingnya saling membantu dan meringankan beban sesama. Hal tersebut sebagaimana disebutkan dalam hadis yang diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu:

Barangsiapa melapangkan satu kesusahan dunia dari seorang Mukmin, maka Allah akan melapangkan darinya satu kesusahan pada hari Kiamat. Barangsiapa memudahkan urusan orang yang kesulitan, maka Allah ‘azza wa jalla memudahkan baginya kesulitan di dunia dan akhirat. Barangsiapa menutupi aib seorang Muslim, maka Allah akan menutup aibnya di dunia dan akhirat. Allah senantiasa menolong seorang hamba selama hamba tersebut menolong saudaranya. Barangsiapa menempuh jalan untuk menuntut ilmu, maka Allah akan memudahkan baginya jalan menuju Surga. Tidaklah suatu kaum berkumpul di salah satu rumah Allah (masjid) untuk membaca Kitabullah dan mempelajarinya, melainkan ketenteraman akan turun kepada mereka, rahmat meliputi mereka, malaikat mengelilingi mereka, dan Allah menyebut mereka di hadapan makhluk yang ada di sisi-Nya.

Melalui pesan Al-Qur’an dan hadis tersebut, menjadi jelas bahwa menjaga persatuan bukan hanya urusan sosial semata, melainkan juga bagian dari ibadah kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Persatuan yang dilandasi iman, keikhlasan, dan semangat saling membantu akan menjadi sumber kekuatan umat dalam menghadapi berbagai tantangan zaman.

Karena itu, marilah kita terus memupuk nikmat persatuan ini dengan penuh kesadaran dan tanggung jawab. Dengan menjaga ukhuwah, memperkuat solidaritas, serta mengedepankan sikap saling menghormati, kita berharap dapat menjadi umat yang kuat, damai, dan mendapatkan keberkahan dari Allah subhanahu wa ta’ala.