Segmen Guru Besar #020: Kampus Tanpa Filsafat? Seperti Makan Lauk Tanpa Nasi!

KAMPUS TANPA FILSAFAT? SEPERTI MAKAN LAUK TANPA NASI!

🎧 Segmen Guru Besar #020 — Ngobrol Pintar
👉 Saksikan selengkapnya: https://www.youtube.com/watch?v=RVvJfwTm0es&t=901s

Apa jadinya sebuah kampus jika hanya sibuk mencetak lulusan, tetapi lupa menumbuhkan cara berpikir?

Di tengah pendidikan tinggi yang semakin dekat dengan tuntutan industri dan dunia usaha-dunia industri (DUDI), muncul satu pertanyaan penting: apakah mahasiswa cukup hanya dibekali keterampilan untuk bekerja, atau juga perlu dibentuk agar mampu berpikir, mempertanyakan, dan menemukan makna dari ilmu yang dipelajarinya?

Pertanyaan inilah yang menjadi salah satu benang merah dalam Segmen Guru Besar #020 Ngobrol Pintar, bersama Prof. Dr. H. Muhammad Syukri Albani Nasution, M.A.

Mengangkat tema “Filsafat Itu Pengawal Ruh Kampus”, Prof. Syukri mengajak kita melihat filsafat bukan sekadar mata kuliah yang penuh teori dan istilah rumit. Filsafat justru menjadi ruang untuk merawat nalar, sikap kritis, kedalaman berpikir, dan kecintaan terhadap ilmu.

Menariknya, perjalanan intelektual beliau sendiri menyimpan kisah yang begitu manusiawi. Siapa sangka, seorang Guru Besar yang hari ini berbicara tentang pentingnya filsafat ternyata pernah memperoleh nilai C dalam mata kuliah filsafat ketika menempuh pendidikan S1. Sebuah cerita yang mengingatkan bahwa satu nilai dalam lembar akademik tidak pernah menjadi penentu akhir perjalanan seseorang.

Lebih jauh, Prof. Syukri menyoroti fenomena mahasiswa hari ini yang semakin pragmatis: kuliah sekadar mengejar nilai, ijazah, pekerjaan, dan tuntutan pasar kerja. Padahal, perguruan tinggi sejatinya bukan hanya tempat untuk menjadi siap bekerja, tetapi juga menjadi manusia yang mampu berpikir dan memahami alasan di balik apa yang dikerjakannya.

Sebab, ketika pendidikan hanya diarahkan pada hasil, manusia berisiko kehilangan proses berpikir. Ketika ilmu hanya dikejar demi profesi, bisa jadi ruh keilmuan perlahan terpinggirkan.

Di sinilah filsafat menemukan relevansinya.

Filsafat mengajarkan kita untuk tidak sekadar bertanya “apa”, tetapi juga “mengapa” dan “untuk apa”.

Dalam konteks hukum Islam dan kehidupan akademik, kemampuan berpikir secara mendalam menjadi semakin penting. Ilmu tidak cukup hanya dikuasai, tetapi juga harus dipahami landasan, tujuan, nilai, dan kemaslahatannya.

Karena itu, kampus tanpa filsafat ibarat makan lauk tanpa nasi—ada yang dikonsumsi, tetapi terasa belum lengkap. Kampus membutuhkan ilmu, keterampilan, teknologi, dan orientasi profesi. Namun, semua itu perlu disertai nalar dan kebijaksanaan agar ilmu tidak kehilangan arah.

Dari ruang podcast, pesan ini menjadi refleksi bagi kita semua:

Jangan sampai kita menjadi generasi yang sangat terampil menjawab, tetapi kehilangan kemampuan untuk bertanya.

Karena pendidikan tinggi bukan hanya tentang seberapa tinggi nilai yang kita peroleh, tetapi sedalam apa kita memahami ilmu dan sebesar apa ilmu itu memberi makna bagi kehidupan.

🎧 Simak selengkapnya Segmen Guru Besar #020 “Ngobrol Pintar” bersama Prof. Dr. H. Muhammad Syukri Albani Nasution, M.A.

👉 Tonton di sini:
https://www.youtube.com/watch?v=RVvJfwTm0es&t=901s

#GuruBesar #NgobrolPintar #Filsafat #FilsafatIslam #PendidikanTinggi #Mahasiswa #Kampus #Ilmu #NalarKritis #UINSumateraUtara